Sunday, November 25, 2012

Ukuran Cetak Foto 2×3, 3×4, 4×6, 3R, 4R

. Sunday, November 25, 2012
0 comments

Ukuran Cetak Foto 2×3, 3×4, 4×6, 3R, 4R

Ukuran Cetak Foto 2×3, 3×4, 4×6, 3R, 4R. Bagi yang mempunyai jasa cetak foto kecil-kecilan dirumah atau yang ingin lebih hemat dalam mencetak foto. Silahkan baca artikel berikut ini. Sebelumnya baca juga artikel tentang Kumpulan Template Jas Eksekutif untuk Pas Foto.

Ukuran Cetak Photo

Bagi anda yang sedang atau akan melamar kerja tentu butuh banyak foto, ini tips agar berhemat . 
Photoshop bisa membuat pas foto murah dibantu dengan  kertas cetak foto dan print warna. Biasanya ukuran cetak foto ini adalah 3×3, 3×4 dan lain sebagainya. Pada dasarnya ukuran ini berdasarkan ukuran centimenter (cm),  namun seiring berkembangnya jaman, ukuran ini mengalami pergeseran, bisa karena menghemat atau agar terlihat pas saja. Jika anda pakai photoshop setting pada ukuran pas photo.

Berikut Ukuran Pas Foto :

  • 2×3 ; 2.1 cm x 2.8 cm, jika dibuat 2×3 cm, fotonya tidak seimbang terlalu memanjang
  • 3×4 ; 2.8 cm x 3.8 cm, sisa 0.2 cm dibuat sebagai batas potongan kertas (garis putih pinggir)
  • 4×6 ; 4 cm x 5.8 cm, jika dibuat 4×6 cm, fotonya tidak seimbang terlalu memanjang.

Ukuran Foto 2R, 3R, 4R, dan lain-lain

Berikut ini merupakan format umum ukuran cetak foto yang biasanya diakhiri dengan huruf R (2R,3R,dll), Sebenarnya ukuran ini tidak mutlak, kenapa demikian? Karena tiap – tiap penyedia jasa cetak foto mempunyai standart cetak yang berbeda. Tapi berikut ini adalah ukuran yang sering dipakai untuk mencetak foto :
Dalam CM Kode Dalam Inchi
6.35 x 8.89 2R 2.5 x 3.5
8.89 x 12.7 3R 3.5 x 5
10.6 x 15.24 4R 4 x 6
12.70 x 17.78 5R 5 x 7
15.24 x 20.32 6R 6 x 8
20.32 x 25 40 8R 8 x 10
25.4 x 30.5 10R 10 x 12
25.4 x 38.1 10R Plus 9.9 x 14.85
30.48 x 39.37 12R 12 x 15.5
40.64 x 50.80 16R 16 x 20
50.80 x 60.96 20R 20 x 24
60.96 x 80.01 24R 24 x 31.5
75 x 100 30R 30 x 40

Ukuran Maksimal Kertas Foto Ponsel Kamera
Ponsel 0.1 megapixel (352×228)
ukuran teoritis 3 x 2.4 cm ukuran yang mendekati pasfoto 2×3
ponsel 0.3 megapixel (640×480)
ukuran teoritis 5.4 x 4.1 cm ukuran yang mendekati pasfoto 4×6
Ponsel 1.0 megapixel (1.152×864)
ukuran teoritis 9.7 x 7.3 cm ukuran yang mendekati 2 R (6 cmx 9 cm)
Ponsel 1.2 megapixel (1.280×960)
ukuran teoritis 10.8 cm x8.1 cm ukuran yang mendekati 2 R (6 cm x 9 cm)
Ponsel 1.3 megapixel (1.280×1.024)
ukuran teoritis 10.8 x 8.7 cm ukuran yang mendekati 2 R (6 cm x 9 cm)
Catatan
Sebaiknya gunakan ukuran inchi dalam pembuatan gambar kemudian baru disesuaikan dengan satuan cm. Ini dilakukan karena konversi dari inchi ke centimeter di atas tidak terlalu detail. Pada dasarnya ukuran kertas dari awalnya memang menggunakan satuan inchi.


Sumber : Widhi Online

Klik disini untuk melanjutkan »»

Wednesday, August 8, 2012

Kerajaan Tulang Bawang

. Wednesday, August 8, 2012
1 comments

Kerajaan Tulang Bawang



Keberadaan nama Kerajaan Tulang Bawang (To-La P’o-Hwang) sempat di kenal di tanah air. Meski tidak secara terperinci menjelaskan, dari sejumlah riwayat sejarah maupun catatan penziarah asal daratan Cina, mengungkap akan keberadaan daerah kerajaan ini.

Prasasti (batu bertulis) Kedukan Bukit yang ditemukan di Palembang menyebut, saat itu Kerajaan Sriwijaya (Che-Li P'o Chie) telah berkuasa dan ekspedisinya menaklukkan daerah-daerah lain, terutama dua pulau yang berada di bagian barat Indonesia. Sejak saat itu, nama dan kebesaran Kerajaan Tulang Bawang yang sempat berjaya akhirnya lambat laun meredup seiring berkembangnya kerajaan maritim tersebut.

Banyak pertanyaan diajukan mengenai keberadaan Kerajaan Tulang Bawang. Sejarah Indonesia dan keyakinan masyarakat Lampung menyatakan pada suatu masa ada sebuah kerajaan besar di Lampung. Kerajaan itu sudah terlanjur menjadi identitas Provinsi Lampung dalam konteks Indonesia modern. Pertanyaan-pertanyaan yang selanjutnya mengemuka adalah bagaimana asal mula Kerajaan Tulang Bawang, di mana pusat kerajaannya, siapa raja yang memerintah dan siapa pula pewaris tahtanya hingga sekarang.

Banyak sejarawan, antropolog maupun arkeolog, bahkan pemerintah Provinsi Lampung pun, berusaha keras untuk menemukan kembali rangkaian sejarah yang 'hilang' tersebut. Meski hingga kini situs Kerajaan Tulang Bawang belum dapat dilacak keberadaannya, namun usaha-usaha untuk meneliti dan menggali jejak-jejak peninggalannya perlu terus dilakukan.

Dalam perjalanan dan perkembangan sejarah kebudayaan dan perdagangan di Nusantara digambarkan, Kerajaan Tulang Bawang merupakan salah satu kerajaan tertua di Indonesia...
di samping Kerajaan Melayu, Sriwijaya, Kutai dan Tarumanegara. Bahkan, Kerajaan Tulang Bawang yang pernah ada di Pulau Sumatera (Swarna Dwipa) ini tercatat sebagai kerajaan tertua di Tanah Andalas. Hal itu dibuktikan dari sejumlah temuan-temuan, baik berupa makam tokoh-tokoh serta beberapa keterangan yang menyebut keberadaan kerajaan di daerah selatan Pulau Sumatera ini.

Kebudayaan Tulang Bawang adalah tradisi dan kebudayaan lanjutan dari peradaban Skala Brak. Karena dari empat marganya, yaitu Buai Bulan, Buai Tegamoan, Buai Umpu dan Buai Aji, di mana salah satu buai tertuanya adalah Buai Bulan, yang jelas bagian dari Kepaksian Skala Brak Cenggiring dan merupakan keturunan dari Putri Si Buai Bulan yang melakukan migrasi ke daerah Tulang Bawang bersama dua marga lainnya, yakni Buai Umpu dan Buai Aji.

Dengan demikian, adat budaya suku Lampung Tulang Bawang dapat dikatakan lanjutan dari tradisi peradaban Skala Brak yang berasimilasi dengan tradisi dan kebudayaan lokal, yang dimungkinkan sekali telah ada di masa sebelumnya atau sebelum mendapatkan pengaruh dari Kepaksian Skala Brak.

Kebudayaan Tulang Bawang yang merupakan penyimbang punggawa dari Kepaksian Skala Brak adalah satu kesatuan dari budaya-budaya dan etnis Lampung yang lainnya, seperti Keratuan Semaka, Keratuan Melinting, Keratuan Darah Putih, Keratuan Komering, Sungkai Bunga Mayang, Pubian Telu Suku, Buai Lima Way Kanan, Abung Siwo Mego dan Cikoneng Pak Pekon.

Pembagian dan pengaturan wilayah kekuasaannya diatur oleh Umpu Bejalan Diway berdasarkan daerah-daerah yang dialiri oleh sungai/way. Secara harfiah Bu-Way atau Buay berarti pemilik sungai/way atau pemilik daerah kekuasaan yang wilayahnya dialiri oleh sungai.

Semasanya, daerah ini telah terbentuk suatu pemerintahan demokratis yang di kenal dengan sebutan marga. Marga dalam bahasa Lampung di sebut mego/megou dan mego-lo bermakna marga yang utama. Di mana pada waktu masuknya pengaruh Devide Et Impera, penyimbang marga yang harus ditaati pertama kalinya di sebut dengan Selapon. Sela berarti duduk bersila atau bertahta. Sedangkan pon/pun adalah orang yang dimulyakan.

Ketika syiar ajaran agama Hindu sudah masuk ke daerah Selapon, maka mereka yang berdiam di Selapon ini mendapat gelaran Cela Indra atau dengan istilah yang lebih populer lagi di kenal sebutan Syailendra atau Syailendro yang berarti bertahta raja.

Mengenai asal muasal kata Tulang Bawang berasal dari beberapa sumber. Keberadaan Tulang Bawang, dalam berbagai referensi, mengacu pada kronik perjalanan pendeta Tiongkok, I Tsing. Disebutkan, kisah pengelana dari Tiongkok, I Tsing (635-713). Seorang biksu yang berkelana dari Tiongkok (masa Dinasti Tang) ke India dan kembali lagi ke Tiongkok. Ia tinggal di Kuil Xi Ming dan beberapa waktu pernah tinggal di Chang’an. Dia menerjemahkan kitab agama Budha berbahasa Sanskerta ke dalam bahasa Cina.
Berdasarkan catatan dari I Tsing, seorang penziarah asal daratan Cina menyebutkan, dalam lawatannya ia pernah mampir ke sebuah daerah di Tanah Chrise. Di mana di tempat itu, walau kehidupan sehari-hari penduduknya masih bersipat tradisional, tapi sudah bisa membuat kerajinan tangan dari logam besi yang dikerjakan pandai besi. Warganya ada pula yang dapat membuat gula Aren yang bahannya dari pohon Aren.

Sewaktu pujangga Tionghoa I Tsing datang melawat dan singgah melihat daerah Selapon, dari I Tsing inilah kemudian di sebut lahirnya nama Tola P’o-Hwang. Sebutan Tola P’o-Hwang dari ejaan Sela-pon. Sedangkan untuk mengejanya, kata Selapon ini di lidah I Tsing berbunyi So-la-po-un.

Berhubung orang Tionghoa itu berasal dari Ke’, seorang pendatang negeri Cina yang asalnya dari Tartar dan dilidahnya tidak dapat menyebutkan sebutan so, maka I Tsing mengejanya dengan sebutan to. Sehingga kata Selapon/Solapun disebutnya To-La P’o-Hwang (Suara Pembangunan, 2005).

Memang hingga kini belum banyak catatan sejarah yang mengungkapkan perkembangan kerajaan ini. Namun catatan Cina kuno menyebutkan pada pertengahan abad ke 4 masehi seorang penziarah agama Budha bernama Fa-Hien (337-422) pernah melawat ke Sumatera. Waktu itu, ketika Fa-Hien melakukan pelayaran ke India dan Srilangka, tapi ia justru terdampar dan singgah di sebuah kerajaan bernama To-Lang P'o-Hwang (Tulang Bawang), tepatnya di pedalaman Chrise (Sumatera). Catatan Fa-Hien tersebut menjelaskan akan keberadaan wilayah Kerajaan Tulang Bawang. Namun dia tidak menyebut di mana persisnya letak pusat pemerintahan kerajaan ini.

Menurut riwayat turun temurun yang dituturkan, mengenai penamaan Tulang Bawang salah satu sumber menyebutkan bahwa sesuai dengan Kerajaan Tulang Bawang yang hingga kini belum di dapat secara mutlak, baik keraton maupun rajanya, demikian juga peninggalan-peninggalannya, bahkan abad berdirinya pun tidak dapat dipastikan, sipat-sipat ini sama halnya dengan sipat bawang. Bentuk bawang, dikatakan bertulang di mana tulangnya. Semakin dicari semakin hilang (kecil), sampai habis tak bertemu dengan tulangnya.

Riwayat kedua, menurut cerita-cerita dahulu raja Tulang Bawang ini banyak musuh. Semua musuh-musuhnya itu harus dibunuh. Karena tempat pembuangan mayat ini di bawang atau lebak-lebak yang akhirnya tertimbunlah mayat-mayat tersebut didalamnya, sampai tinggal tumpukan tulang-tulang manusia memenuhi bawang/lebak-lebak di sungai ini, maka di sebut Sungai Tulang Bawang.

Riwayat ketiga, pada zaman raja Tulang Bawang yang pertama sekitar abad ke IV masehi, dikisahkan permaisuri raja menghanyutkan bawang di sungai, yang sekarang di kenal dengan sebutan Way (Sungai) Tulang Bawang. Kemudian Permaisuri itu menyumpah-nyumpah “Sungai Bawang” lah ini. Semenjak itu, sungai tersebut dinamakan Sungai Tulang Bawang atau Kerajaan Tulang Bawang (Hi. Assa’ih Akip, 1976).

Bila menggunakan pendapat Yamin, maka penamaan Tolang P’o-Hwang akan berarti ”Orang Lampung” atau ”Utusan dari Lampung” yang datang ke negeri Cina dalam abad ke 7 masehi. Yamin mengatakan, perbandingan bahasa-bahasa Austronesia dapat memisahkan urat kata untuk menamai kesaktian itu dengan nama asli, yaitu tu (to, tuh), yang hidup misalnya dalam kata-kata tu-ah, ra-tu, Tu-han, wa-tu, tu-buh, tu-mbuhan dan lain-lain.

Berhubung dengan urat kata asli tu (tuh-to) menunjukkan zat kesaktian menurut perbandingan bahasa-bahasa yang masuk rumpun Austronesia, maka baiklah pula diperhatikan bahwa urat itu terdapat dalam kata-kata seperti to (orang dalam bahasa Toraja), tu (Makasar dan Bugis). Dengan demikian, To-Lang P’o-Hwang berarti To= orang dan Lang P’o-Hwang= Lampung. Sejak itu, orang-orang menyebut daerah ini dengan sebutan Lampung (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Lampung, 1977/1978).

Menurut tuturan rakyat, Kerajaan Tulang Bawang berdiri sekitar abad ke 4 masehi atau tahun 623 masehi, dengan rajanya yang pertama bernama Mulonou Jadi. Diperkirakan, raja ini asal-usulnya berasal dari daratan Cina. Dari namanya, Mulonou Jadi berarti Asal Jadi. Mulonou= Asal/Mulanya dan Jadi= Jadi. Raja Mulonou Jadi pada masa kemudiannya oleh masyarakat juga di kenal dengan nama Mulonou Aji dan Mulonou Haji.

Walaupun sudah sejak 651 masehi utusan dari Khalifah Usmar bin Affan, yaitu Sayid Ibnu Abi Waqqas sudah bertransmigrasi ke Kyang Chou di negeri Cina dan meskipun dikatakan utusan Tulang Bawang pernah datang ke negeri Cina dalam abad ke 7 masehi, namun rupanya orang-orang Lampung kala itu belum beragama Islam.

Setelah memerintah kerajaan, berturut-turut Raja Mulonou Jadi digantikan oleh putra mahkota bernama Rakehan Sakti, Ratu Pesagi, Poyang Naga Berisang, Cacat Guci, Cacat Bucit, Minak Sebala Kuwang dan pada abad ke 9 masehi kerajaan ini di pimpin Runjung atau yang lebih di kenal dengan Minak Tabu Gayaw.

Runjung (Minak Tabu Gayaw) memiliki 3 putra mahkota, masing-masing bernama Tuan Rio Mangku Bumi, Tuan Rio Tengah dan Tuan Rio Sanak. Tuan Rio Mangku Bumi pewaris tahta kerajaan di Pedukuhan Pagardewa, dengan hulubalang Cekay di Langek dan Tebesu Rawang. Sedangkan Tuan Rio Tengah mempertahankan wilayah Rantaou Tijang (Menggala) dan Tuan Rio Sanak mempertahankan wilayah daerah Panaragan dengan panglimanya Gemol (Minak Indah).

Dalam tuturan itu dikatakan juga, untuk mengawasi daerah perbatasan, seperti Mesuji, Teladas, Gedung Meneng, Gunung Tapa, Kota Karang Mersou, Gedung Aji, Bakung dan Menggala, masing-masing tempat tersebut di jaga oleh para panglimanya guna mengamankan wilayah dari serangan musuh, baik dari luar maupun dalam negeri sendiri.

Pada masa Minak Patih Pejurit (Minak Kemala Bumi) terlihat benar susunan struktur pertahanan ini. Tiap-tiap kampung dijaga oleh panglima-panglimanya. Seperti di Kampung Dente Teladas, dijaga Panglima Batu Tembus dan Minak Rajawali, dengan tugas pos pertahanan pertama dari laut.

Arah ke hulu, Kampung Gedung Meneng, Gunung Tapa dan Kota Karang, dengan panglimanya bernama Minak Muli dan Minak Pedokou. Untuk pertahanan, tempat ini dijadikan pusat pertahanan kedua. Sementara, Kampung Meresou atau Sukaraja, dijaga Panglima Minak Patih Ngecang Bumi dan Minak Patih Baitullah, yang bertugas memeriksa (meresou) setiap musuh yang masuk.

Minak Kemala Bumi atau di kenal Haji Pejurit merupakan keturunan raja Kerajaan Tulang Bawang yang telah beragama Islam. Ia lahir dan wafat pada abad ke 16 masehi. Minak Kemala Bumi salah satu penyebar agama Islam di Lampung dan keturunan ke sepuluh dari Tuan Rio Mangku Bumi, raja terakhir yang masih beragama Hindu.

Haji Pejurit atau Minak Patih Pejurit atau Minak Kemala Bumi mendalami ajaran agama Islam berguru dengan Prabu Siliwangi (Jawa Timur). Lalu ia memperistri putri Prabu Siliwangi bernama Ratu Ayu Kencana Wungu. Anak cucu dari keturunan mereka selanjutnya menurunkan Suku Bujung dan Berirung.

Selain catatan dan riwayat, bukti adanya Kerajaan Tulang Bawang, diantaranya terdapat makam raja-raja seperti Tuan Rio Mangku Bumi yang dimakamkan di Pagardewa, Tuan Rio Tengah dimakamkan di Meresou dan Tuan Rio Sanak dimakamkan di Gunung Jejawi Panaragan. Selain itu, ada pula makam para panglima yang berada di sejumlah tempat.
Tuturan rakyat lain mengatakan, raja Kerajaan Tulang Bawang bernama Kumala Tungga. Tak dapat dipastikan dari mana asal raja dan tahun memerintahnya. Namun diperkirakan Kumala Tungga memerintah kerajaan sekitar abad ke 4 dan 5 masehi (Sumber: Drs. Dafryus FA, Menggala, 2009).

Sampai sekarang belum ada yang bisa memastikan pusat Kerajaan Tulang Bawang. Tapi ahli sejarah Dr. J. W. Naarding memperkirakan, pusat kerajaan ini terletak di hulu Way Tulang Bawang, yaitu antara Menggala dan Pagardewa, kurang lebih dalam radius 20 kilometer dari pusat ibukota kabupaten, Kota Menggala.

Meski belum di dapat kepastian letak pusat pemerintahan kerajaan ini, namun berdasarkan riwayat sejarah dari warga setempat, pemerintahannya diperkirakan berpusat di Pedukuhan, di seberang Kampung Pagardewa. Kampung ini letaknya berada di Kecamatan Tulang Bawang Tengah, yang sekarang tempat itu merupakan sebuah kampung di Kabupaten Tulang Bawang Barat, pemekaran dari Kabupaten Tulang Bawang.

Mengenai pusat pemerintahan kerajaan ini, pada sekitar tahun 1960 terjadi peristiwa mistis yang dialami salah seorang warga Kampung Pagardewa bernama Murod. Kejadian yang dialaminya itu seakan menjadi sebuah ‘petunjuk’ akan keberadaan kerajaan yang sampai kini letak pusat pemerintahannya belum juga ditemukan secara pasti.

Waktu itu, Murod tengah mencari rotan di Pedukuhan. Kemudian ia ‘tersesat’ ke sebuah tempat yang masih asing baginya. Di tempat tersebut, Murod melihat rumah yang atapnya terbuat dari ijuk dan dipekarangannya terdapat taman. Di dalam rumah itu, dilihatnya ada kursi kerajaan terbuat dari emas, gong serta perlengkapan lainnya. (Hi. Assa’ih Akip, 1976 dan Hermani, SP, Pagardewa, 2009).

Meningkatnya kekuasaan Kerajaan Sriwijaya pada akhir abad ke 7 masehi, di sebut dalam sebuah inskripsi batu tumpul Kedukan Bukit dari kaki Bukit Seguntang, di sebelah barat daya Kota Palembang mengatakan bahwa pada tahun 683, Kerajaan Sriwijaya telah berkuasa, baik di laut maupun di darat. Dalam tahun tersebut berarti kerajaan ini sudah mulai meningkatkan kekuasaannya.

Pada tahun 686, negara tersebut telah mengirimkan para ekspedisinya untuk menaklukkan daerah-daerah lain di Pulau Sumatera dan Jawa. Oleh karenanya, diperkirakan sejak masa itu Kerajaan Tulang Bawang sudah dikuasai oleh Kerajaan Sriwijaya, atau daerah ini tidak berperan lagi di pantai timur Lampung.

Seiring dengan makin berkembangnya Kerajaan Che-Li P'o Chie (Sriwijaya), nama dan kebesaran Kerajaan Tulang Bawang sedikit demi sedikit semakin pudar. Akhirnya, dengan bertambah pesatnya kejayaan Sriwijaya yang di sebut-sebut pula sebagai kerajaan maritim dengan wilayahnya yang luas, sulit sekali untuk mendapatkan secara terperinci prihal mengenai catatan sejarah perkembangan Kerajaan Tulang Bawang.

Sumber lain menyebutkan, Kerajaan Sriwijaya merupakan federasi atau gabungan antara Kerajaan Melayu dan Kerajaan Tulang Bawang (Lampung). Pada masa kekuasaan Sriwijaya, pengaruh ajaran agama Hindu sangat kuat. Orang Melayu yang tidak dapat menerima ajaran tersebut menyingkir ke Skala Brak. Namun, ada sebagian orang Melayu yang menetap di Megalo dengan menjaga dan mempraktekkan budayanya sendiri yang masih eksis. Pada abad ke 7 masehi, nama Tola P'ohwang diberi nama lain, yaitu Selampung, yang kemudian di kenal dengan nama Lampung. 
Oleh: Akhmad Sadad/Disarikan Dari Berbagai Sumber

Klik disini untuk melanjutkan »»

To-lang P’o-hwang (Tulang Bawang) Kingdom

.
1 comments

Preface
Until today there wasn’t any information about a center of power in the Lampung area accept for a note from Chinese Liang’s dynasty about an envoy from To-lang P’o-hwang came several times to China between 430 and 475 AD. According to G. Ferrand To-lang P’o-hwang was Tulangbawang, Poerbatjaraka also think that it’s the same as a kingdom once located at the Tulangbawang river area in Lampung. That was the only entry in Liang’s dynasty note about To-lang P’o-hwang, so maybe, some time in history this kingdom was conquered by others (Sumadio, 1990: 79).

After Tulangbawang, Lampung came under power of Srivijaya Kingdom, based on some inscription such as Bungkuk, Palas Pasemah (Purwanti, 1995: 98), and Batubedil (Soekmono, 1985: 49-50). Palas Pasemah inscription which was found in Way (river) Pisang basin contains notes about conquest of Lampung by Srivijaya, in it there’s also a phrase about Bhumi Jawa that didn’t obey or yield to Srivijaya, note about Bhumi Jawa can also found in Kota Kapur inscription. In term of palaeographic the inscriptions come from 7th century AD (Boechari, 1979: 19-40).

Kota Kapur inscriptions found at Menduk River basin in Bangka Island contain curses to whom that done evil and not loyal to the king, there’s also notes about Srivijaya expedition to conquer Bhumi Jawa. According to P. V. van Stein Callenfels “jawa” in the inscription means outside, thus the inscription was to commemorated Srivijaya conquering expedition (Sumadio, 1990: 58-59). About this subject Boechari (1986: 33-56) had other opinion, he think the inscription was about Srivijaya conquering Lampung, thus Bhumi Jawa location can be found in Lampung area not on Java Island.

Result from contemporary research done at Batujaya suggest that Bhumi Jawa is indeed Java Island but there’s an area in Lampung that also named Bumijawa habituated by ingenious people of Lampung. There were also probabilities that Bhumi Jawa in Palas Pasemah and Kota Kapur inscription revering to that particular area in Lampung.

Bumijawa Settlement Sites
There are two places named Bumijawa in Lampung, one is at Sukadana District on East Lampung (Saptono, 2000: 109-110) and the other is at Sukau District on West Lampung (Tim Penelitian, 2006). Bumijawa in East Lampung located west from the city of Sukadana and lived by Nuban people from Abung Siwa Mega Clan which was descendant of Ratu Dipuncak, an early Lampung ruler.

In family record belong to Mr. Efendi Gelar Sutan Pangeran Junjungan Nuban, a prominent Bumijawa’s. Ratu Dipuncak is 11th in a long line of names starting with Tali Tunggal. Some of these names are Ratu Sang Balaikang, Minak Sang Bujuang Ratu, Tuan Baliksyah, Minak Pengawo Bumi, Gajah Dalam, Minak Nyeringgem etc. Sutan Junjungan Pangran Nuban himself is number 29th in line.

Nuban Family came from Bukit Pesagi, West Lampung, before that they lived at area known as Martapura todays. These people migrated from time to time and every area that they lived on had Bumijawa as a name. After Bukit Pesagi, Nuban Family moved to Raman Indra village on Way Seputih river basin and then to Gedongdalem on Way Batanghari river basin before finally stays at the current Bumijawa village.

Settlement remains of Bumijawa communities in East Lampung still can be seen at Gedongdalam sites, located north of Batang Hari River at 5o03’ South and 105o25’ East. The site is about 2000 square metres, and to east and west of the area there’s moat act as settlement border. The sites now is a corn field with shards of china and pottery scattered on the ground, people who works on the land often found Chinese coins.

On the west moat there were three dirt mounds with north – south orientation. The south most mounds is 2 m high and around 3 m in diameters known as the tomb of Midah, wife of Minak Nyaringgem, it’s covered by shrubs and didn’t have stone of wood as a sign. 8 meters to the north there’s another tomb, this one belong to Putri Bagus –the daughter of Menak Nyaringgem-. The 1 m high and 2 m diameters mound is also covered by grass and shrubs. The last tomb with 2 m high and 4 m in diameters belong to Menak Nyaringgem himself, this mound is covered with bamboo groove. On top of it there are some stone on the ground.

Bumijawa in West Lampung is a small hamlet in Pekon (village) Tapak Siring, Sukau District. Peoples who live there are Buay Nyerupa communities from Pak Sekalabrak. One source says that Buay Nyerupa kingdom was begin at 1420 with Tapak Siring in Sukau as center of government consisting Sukau, Liwa, and Ulu Krui. At Dalom Piekulun reign the kingdom reach its golden era with coffee, cinnamons, and vegetables trade as main source of income, planted on the slopes of Gunung (mount) Seminung, Way Jangkar, Ulu Krui and Penggawa Lima. The kingdom have trade relation was with Bantam, Palembang, and Atceh Sultanates.

Tapak Siring site located at Bukit (hill) Katai in Kunayan hamlet, Tapak Siring village. It’s on a hilltop with cliff and moat as the border with north – south orientation, on it there are two stone –called katai by the locals-. The first stone is 0.7 by 0.7 by 1 m in dimensions and the second one is 0.25, 0.6 by 0.8 m. The first one located on the south side of the hilltop and the second one is north of it. Chicken feet and Buffalo hoofs impressions are one the first stone, on the ground around the stones also can be found fragments of ceramics from Song Dynasty.

Toms of Adipati Sebrak Bumi and his spouse located also on the slope of Bukit Katai, he’s considered as one of ancestor of the Buay Nyerupa. Sebrak in Lampung language means expanse and bumi means land, so the name literally means broad land/expanse land belong to Adipati Sebrak Bumi.

Toms of Sebrak Bumi is square in shape with 5.5 by 5.5 m in dimensions and was finished in 2003. It got North West – South east orientation and has head stone 0.29 m long, 0.20 m wide and 0.18 m in depth, the South east stone is 0.34 m long, 0.12 m wide and 0.22 m in dept. Distance between both stone are 2 m, the tomb is covered in ceramics with overall dimension of 2.4 by 0.60 by 0.35 m.

Wife of Adipati Sebrak Bumi tomb located west of his, have same orientation and marked with head stones, 0.28 by 0.13 and 0.2 cm and 0.17 by 0.10 and 0.07 cm. Distance between the stones are 1.6 m, covered in ceramics with overall dimension of 2 by 0.40 and 0.35 m.

Family in Lampung Communities
Bumijawa is connected with Marga Nuban and Buay Nyerupa communities, Marga Nuban is one of the family belong to Abung Siwa Mega Clan and Buay Nyerupa is one of “buay” (a community within one family) in Paksi Pak Sekalabrak. Traditional rules in form of “marga” (family) according to Ahmad Kesuma Yudha, quoting J. W. Naarding (Yudha, 1996: 3) was known after the fall of Tulangbawang. Vacant position of a ruler in Lampung was use by Srivijaya to rule the area and introduce “marga” traditional governing system that continually used until Bantam taking over as ruler of Lampung.

Research by Hilman Hadikusuma in 1989 (1989: 157) come up with a slightly different result he said “marga” system was begins in 17th or 18th century. Before that traditional government in Lampung known as keratuan, several of this “keratuan” in 17th or 18th century form an organization based on buay (relatives) known as paksi (several buays or clan) and marga, (part of buays in form of villages)

Another research was done by Mintosih (1993: 42 – 45) had result as follows; marga system was introduced and used by Srivijaya as means to control areas under its rule. The system is more birocrathic and more suitable to be use in a big and complex’s communities’ compares to more authoritarian rules of keratuan system in which the ruler is chosen and elected by a higher authority. A marga is form according to Simbur Cahaya law, a codification of laws and rules in Srivijaya Kingdom done in 17th century by Ratu Sinuhun Semabing, the wife of Sultan Sending Kenayan who ruled between 1629 and 1636.

According to oral history there were four rulers from “keratuan” system in Lampung, Empu Canggih titled Datu Dipuncak, Empu Serunting titled Ratu Pugung, Empu Rakihan titled Ratu Balaw, and Empu Aji Saka titled Ratu Pemanggilan (Soebing, 1988: 5 – 7; Hadikusuma, 1989: 44 – 47; Warganegara, 1994: 2 – 4). Around 14th century the small area suffer from over population which in turn makes peoples to migrated to other places in Lampung.

Datu Dipuncak moved from Sekalabrak to Canguk Gaccak, at the new place more people join him make a quiet large settlement at that place. According to Soebing (1988: 20) these people make Abung Saiwa Mega clan consisting of nine families; Nunyai, Unyi, Nuban, Bulan, Beliuk, Kunang, Selagai and Anak Tuha. After some times Buay Bulan family join the Mega Pak clan and its position was replaced by Buay Nyerupa family (Warganegara, 1994: 19). This Buay Nyerupa is a part of Buay Nyerupa family in Sakau, West Lampung which in turn also a part of Paksi Pak Sekalabrak. Bumijawa communities in East Lampung including Nuban Family all begin from Sekalabrak area.

Paksi Pak Sekalabrak itself begin with Empu Rakihan or Ratu Balaw, from his marriage with Puteri Sindi he had four sons; Empu Belunguh, Empu Nyerupa, Empu Parenong, and Empu Bejalan Di Wai. They formed the Paksi Pak Sekalabrak clan and lived around Bukit Pasagi and Ranau lakes (Sekalabrak).

Some Thought on Bumijawa
Bumi jawa in Lampung can be connected to Gedong Dalem sites in East Lampung and Tapak Siring site in West Lampung. Gedong Dalem located at Way Batanghari river basin, and based on artifacts found there the settlement was bordered by the river. At the site we can find tomb of Menak Nyaringgem, Midah and Putri Bagus which were considered as ancestors by the local communities. The tombs located outside of the settlement areas in the shape of mounds and didn’t have real orientation.

This mounds shape (tumulus) also can be found at Bentengsari site at Jabung District. At the site the mounds located inside the dirt walls which can also be found old tombs and “batu dakon” (Laili, 2008). By comparing the two sites and the existence of “batu dakon”, conclusion that came up is both the sites came from pre Islamic era.

As for Tapak Siring site, it’s also bordered by dirt walls and manmade moats. In this site megalithic cultures can also seen from stones that had manmade depression and marks on its surface, the stone known as “batu katai” by locals.

Megalithic remains can also be found in West Lampung, such as at Tapak Siring site and others sites around Ranau Lake. Those remains are in form of menhirs, Flat Stone, Carved Stone, Stone Enclosure, Dolmens, and Carved Dolmens. Shards of ceramics and pottery also had been found at those sites.

Experts like Geldern (1945), Heekeren (1958), and Soejono (1981) believes that the term megalithic is not revering to a certain era or cultures but more like a tradition that evolved from Neolithic era thru steel and copper era up until now at some places (Prasetyo, 2004: 95). Megalithic tradition were universal, it’s found all over the world accept for Australia (Bellwood, 1975: 281-380; Soejono, 1984: 242)

Etymologically megalithic came from Greek words Mega which mean big and Lithos which mean stone thus megalithic mean a tradition that use and made big stone objects. In the other hand, objects found at the fields often didn’t correspond with that term. As F. A. Wagner said, megalithic concepts were not revering to big stones in particular as small stone or no stone at all can be said to had megalithic characteristics but more to divine ways to worships ancestors (Wagner, 1962: 72).

For some experts megalithic cultures was identified with ancestor worships, like Geldern that said a megalithic structure can be linked with the underworld, to ensure safe journey for the death and safe and prosperous life for the living (Geldern, 1945: 149). Influence of this tradition can be seen by the way societies look at the ways of live can effects live after death (Soejono, 1977: 195).

Initially Bhumi Jawa in some of Srivijaya inscription was considered as settlement of Javanese migrants in Lampung, but knows it’s known that Bumijawa in Sukadana area in lived by ingenious peoples of Lampung. The settlement of Bumijawa in Sukadana begin at around 14th century AD and as the Kota Kapus and Palas Pasemah inscriptions came from 7th century AD there’s hardly any connections. But Bumijawa communities in Sukadana were migrants and always take their settlement name to the new area had to came into considerations.

Based on ethno historic Bumijawa communities came from Bukit Pesagi and before that area around Martapura, these areas know known as Sekalabrak which span around Lake Ranau areas. The area was already a settlement for a long time as we can found a temple from classical era at Jepara, by its type the temple dated from early classic era and had same ornaments as temples in Central and East Java from around 9th and 10th century AD.

In Bawang area there is an inscription knows as Hujung Langit which according to Damais (1962) came from 919 C or 997 AD and Javanese influence can be seen in its dating method. Furthermore Damais connect the Javanese dating method in the inscriptions with Javanese’s expedition to Srivijaya which according to Chinese sources happened in 992 – 993 AD. His conclusion was that the Javanese influence found at the inscriptions was proof of Javanese occupation in Lampung in accordance with Chinese sources (Guillot, et al, 1996: 116).

According to Kota Kapur inscription there’s no Javanese influence in Ranau Lake area, but opinions that the area already was settled for a long time before Hujung Langit inscription and Jepara Temple can be accepted if there’s enough data to back it up. Hypothesis that said Bhumi Jawa was located in Lampung still need more data to verify which maybe can be found at Ranau Lake, Martapura or South Sumatra, but surely not in Lampung.


Bibliography

Bellwood, Peter, 1975. Man Conquest of The Pasific: The Prehistory of Southeast Asia an Oceania. New York: Oxford University Press.

Boechari. 1979. An Old Malay Inscription of Srivijaya at Palas Pasemah (South Lampong). In Pra Seminar Penelitian Sriwijaya. Jakarta: Pusat Penelitian Purbakala dan Peninggalan Nasional.

-----------. 1986. New Investigations on The Kedukan Bukit Inscription. In Untuk Bapak Guru.Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.

Damais, L Ch. 1962. Études Soumatranaises, I: La date de l’inscription de Hujung Langit (Bawang). In BEFEO, L (2).

Guillot, Claude; Lukman Nurhakim; Sonny Wibisono. 1996. Banten Sebelum Zaman Islam, Kajian Arkeologi di Banten Girang 932? – 1526. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, École Française d’Extrême-Orient, Penerbit Bentang.

Hadikusuma, Hilman. 1989. Masyarakat dan Adat Budaya Lampung. Bandung: Mandar Maju.

Heine Geldern, Robert von. 1945. “Prehistoric Research in the Netherland Indies.” Science and Scientist in The Netherlands Indies. New York, Board for the Netherlands Indies, Surinam and Curacao

Laili, Nurul. 2008. Laporan Hasil Penelitian Arkeologi Permukiman Tradisi Masa Prasejarah di Kawasan Serampang, Rawa Sragi dan Sekitarnya, Kabupaten Lampung Timur, Provinsi Lampung. Balai Arkeologi Bandung.

Mintosih, Sri (et. al.) 1993. Sistem Pemerintahan Tradisional Daerah Sumatera Selatan. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Prasetyo, Bagyo, dkk. 2004. Religi Pada Masyarakat Prasejarah di Indonesia. Jakarta: Proyek Penelitian dan Pengembangan Arkeologi.

Purwanti, Retno. 1995. Perang Pada Masa Sriwijaya: Tinjauan Terhadap Prasasti-prasasti Abad VII Masehi. In Jurnal Penelitian Balai Arkeologi Bandung No. 3, pg. 98 – 103.

Saptono, Nanang. 2000. Pemukiman Kuna di Daerah Sukadana, Propinsi Lampung. In Edy Sunardi and Agus Aris Munandar (ed.). Rona Arkeologi, pg. 107 – 122. Bandung: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia.

Sevin, Olivier. 1989. History and Populations. In Transmigration. Jakarta: Orstom-Departemen Transmigrasi.

Soebing, Abdullah A. 1988. Kedatuan di Gunung Keratuan di Muara. Jakarta: Karya Unipress.

Soejono, R.P., 1977. “Sistem-Sistem Penguburan pada Akhir Masa Prasejarah di Bali”. In Aspek-Aspek Arkeologi Indonesia No. 5. Jakarta: Puslitarkenas

Soejono, R.P., 1984. “Jaman Prasejarah di Indonesia”. In Sejarah Nasional Indonesia Vol. I. Jakarta: PN Balai Pustaka

Soekmono. 1985. Amerta 3. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.

Sumadio, Bambang. 1990. Jaman Kuna, Sejarah Nasional Indonesia II. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Tim Penelitian. 2006. Laporan Penelitian Awal Situs-situs Keratuan di Propinsi Lampung. Dinas Pendidikan Nasional Propinsi Lampung – Balai Arkeologi Bandung.

Wagner, F.A. 1962. “ Indonesia: The Art of an Island Group”. Art of the World Series.

Warganegara, Marwansyah. 1994. Riwayat Orang Lampung.

Yudha, Ahmad Kesuma. 1995. Perspektif Sosiologis Dalam Pembangunan Persiapan Kabupaten Daerah Tingkat II Tulangbawang. Essay on Seminar Pembangunan Masyarakat Tulangbawang. Bandar Lampung, 29 – 30 Maret 1996. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Persiapan Kabupaten Daerah Tingkat II Tulangbawang (unpublished).



Diposkan oleh Arkeologi Lampung di 00:39
0 komentar:
Poskan Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Langgan: Poskan Komentar (Atom)


Kata pengantar
Sampai saat ini tidak ada informasi tentang pusat kekuasaan di daerah Lampung untuk menerima catatan dari dinasti Cina Liang tentang seorang utusan dari To-lang P’o-hwang beberapa kali datang ke China antara 430 dan 475 Masehi. Menurut G. Ferrand To-lang-Hwang P'o adalah Tulangbawang, Poerbatjaraka juga berpikir bahwa itu sama sekali sebuah kerajaan yang terletak di wilayah sungai Tulangbawang di Lampung. Itulah hanya masuk dalam catatan dinasti Liang tentang To-lang P'o-Hwang, jadi mungkin, beberapa waktu dalam sejarah kerajaan ini dikuasai oleh orang lain (Sumadio, 1990: 79).

Setelah Tulangbawang, Lampung berada di bawah kekuasaan Kerajaan Sriwijaya, didasarkan pada beberapa prasasti seperti Bungkuk, Palas Pasemah (Purwanti, 1995: 98), dan Batubedil (Soekmono, 1985: 49-50). Prasasti Palas Pasemah yang ditemukan di Way (sungai) Pisang cekungan berisi catatan tentang penaklukan Lampung oleh Sriwijaya, di dalamnya ada juga sebuah ungkapan tentang Bhumi DKI yang tidak mematuhi atau menyerah pada Sriwijaya, catatan tentang Bhumi DKI juga dapat ditemukan di Kota Kapur tulisan. Dalam jangka waktu palaeographic prasasti berasal dari abad ke-7 Masehi (Boechari, 1979: 19-40).

Prasasti Kota Kapur yang ditemukan di cekungan Sungai Menduk di Pulau Bangka mengandung kutuk bagi yang melakukan apa yang jahat dan tidak setia kepada raja, ada juga catatan tentang ekspedisi untuk menaklukkan Bhumi Sriwijaya DKI. Menurut PV van Stein Callenfels "DKI" dalam prasasti berarti keluar, sehingga tulisan ini adalah untuk diperingati ekspedisi menaklukkan Sriwijaya (Sumadio, 1990: 58-59). Tentang subjek Boechari (1986: 33-56) memiliki pendapat lain, dia pikir tulisan itu tentang Sriwijaya menaklukkan Lampung, sehingga lokasi Bhumi DKI dapat ditemukan di daerah Lampung tidak di Pulau Jawa.

Hasil dari penelitian kontemporer dilakukan di Batujaya Bhumi DKI menunjukkan bahwa memang Pulau Jawa, tetapi ada suatu daerah di Lampung yang juga bernama terbiasa Bumijawa oleh orang-orang cerdas di Lampung. Ada juga kemungkinan bahwa Bhumi DKI di Palas Pasemah dan prasasti Kota Kapur menghormati pada area tertentu di Lampung.

Penyelesaian Bumijawa Situs
Ada dua tempat bernama Bumijawa di Lampung, satu di Kabupaten Sukadana di Lampung Timur (Saptono, 2000: 109-110) dan yang lainnya di Sukau Lampung Barat Kabupaten pada (Tim Penelitian, 2006). Bumijawa di Lampung Timur terletak di sebelah barat dari kota Sukadana dan tinggal oleh orang-orang Nuban dari ABUNG Siwa Mega Clan yang keturunan Ratu Dipuncak, penguasa Lampung awal.

Dalam catatan milik keluarga Pak Efendi Gelar Junjungan Nuban Sutan Pangeran, seorang Bumijawa ternama. Ratu Dipuncak adalah 11 dalam deretan panjang nama dimulai dengan Tali Tunggal. Beberapa nama-nama ini adalah Sang Ratu Balaikang, Minak Sang Ratu Bujuang, Tuan Baliksyah, Minak Pengawo Bumi, Gajah Dalam, Minak Nyeringgem dll Pangran Sutan Junjungan Nuban sendiri adalah nomor 29 sesuai.

Nuban Keluarga berasal dari Bukit Pesagi, Lampung Barat, sebelum itu mereka hidup di daerah yang dikenal sebagai todays Martapura. Orang-orang bermigrasi dari waktu ke saat dan setiap daerah bahwa mereka telah tinggal di Bumijawa sebagai nama. Setelah Bukit Pesagi, Nuban Keluarga pindah ke desa Raman Indra di DAS Seputih Way dan kemudian Gedongdalem pada DAS Way Batanghari sebelum akhirnya tinggal di Desa Bumijawa sekarang.

Penyelesaian sisa Bumijawa masyarakat di wilayah Lampung Timur masih dapat dilihat di situs Gedongdalam, terletak di utara Sungai Batang Hari di 5o03 'Selatan dan 105o25' Bujur Timur. Situs ini sekitar 2000 meter persegi, dan ke timur dan barat daerah ada parit bertindak sebagai penyelesaian perbatasan. Situs sekarang adalah bidang jagung dengan pecahan keramik dan tembikar yang berserakan di tanah, orang-orang yang bekerja pada tanah sering ditemukan koin Cina.

Di sebelah barat parit ada gundukan tanah tiga dengan utara - orientasi selatan. Gundukan paling selatan adalah 2 m dan tinggi sekitar 3 meter diameter dikenal sebagai makam Midah, Minak Nyaringgem istri, itu tertutup oleh semak-semak dan tidak memiliki batu kayu sebagai tanda. 8 meter ke utara ada makam lain, yang satu ini milik Putri-putri Bagus dari Menak Nyaringgem-. M-1 tinggi dan 2 m gundukan diameter juga tertutup oleh rumput dan semak belukar. Makam terakhir dengan 2 m tinggi dan 4 m diameter milik Menak Nyaringgem sendiri, gundukan ini ditutup dengan alur bambu. Di atasnya ada beberapa batu di tanah.

Bumijawa di Lampung Barat adalah sebuah dusun kecil di Pekon (desa) Tapak Siring, Sukau Kabupaten. Masyarakat yang tinggal di sana adalah Buay Nyerupa masyarakat dari Pak Sekalabrak. Satu sumber mengatakan bahwa kerajaan Buay Nyerupa itu dimulai pada 1420 dengan Tapak Siring di Sukau sebagai pusat pemerintahan yang terdiri Sukau, Liwa, dan Krui Ulu. Pada masa pemerintahan kerajaan Piekulun Dalom mencapai zaman keemasan dengan kopi, cinnamons, dan perdagangan sayuran sebagai sumber utama penghasilan, ditanam di lereng Gunung (mount) Seminung, Jalan Jangkar, Ulu Krui dan Penggawa Lima. Kerajaan memiliki hubungan perdagangan dengan Banten, Palembang, dan Atceh kesultanan.

Tapak situs Siring yang terletak di Bukit (bukit) Katai di dusun Kunayan, Tapak Desa Siring. Itu di puncak bukit dengan tebing dan parit sebagai batas utara - orientasi selatan, di dalamnya terdapat dua katai batu yang disebut oleh penduduk setempat-. Batu pertama adalah 0,7 sebesar 0,7 dengan 1 m dalam dimensi dan yang kedua adalah 0,25, 0,6 dengan 0,8 m. Yang pertama terletak di sebelah selatan puncak bukit dan yang kedua adalah utara itu. Ayam dan kuku kaki Buffalo tayangan adalah salah satu batu pertama, di tanah di sekitar batu juga dapat ditemukan fragmen keramik dari Dinasti Song.

Toms dari Adipati Sebrak Bumi dan istrinya juga terletak di lereng Bukit Katai, dia dianggap sebagai salah satu nenek moyang Buay Nyerupa. Sebrak dalam bahasa Lampung berarti tanah luas dan bumi berarti, sehingga nama secara harfiah berarti luas tanah / luas tanah milik Adipati Sebrak Bumi.

Toms dari Sebrak Bumi adalah berbentuk persegi dengan 5,5 5,5 oleh m di dimensi dan selesai pada tahun 2003. Hal ini menjadi Barat Utara - Selatan orientasi timur dan memiliki kepala batu 0,29 m panjang, lebar 0,20 m dan 0,18 m di kedalaman, batu timur Selatan adalah 0,34 m panjang, lebar 0,12 m dan 0,22 m di dept. Jarak antara kedua batu 2 m, kubur itu ditutupi di keramik dengan dimensi keseluruhan sebesar 2,4 oleh 0,60 sebesar 0,35 m.

Istri makam Adipati Sebrak Bumi terletak di sebelah barat-nya, memiliki orientasi yang sama dan ditandai dengan kepala batu, 0,28 dengan 0,13 dan 0,2 cm dan 0,17 dengan 0,10 dan 0,07 cm. Jarak antara batu adalah 1,6 m, tertutup keramik dengan dimensi keseluruhan 2 sebesar 0,40 dan 0,35 m.

Keluarga di Lampung Masyarakat
Bumijawa terhubung dengan Marga Nuban dan Buay Nyerupa masyarakat, Marga Nuban adalah salah satu keluarga ABUNG Siwa milik Clan Mega dan Buay Nyerupa adalah salah satu dari "buay" (komunitas di dalam satu keluarga) di Paksi Pak Sekalabrak. Tradisional aturan dalam bentuk "Marga" (keluarga) menurut Ahmad Yudha Kesuma, mengutip JW Naarding (Yudha, 1996: 3) dikenal setelah jatuhnya Tulangbawang. Vacant dari posisi penguasa di Lampung itu digunakan oleh Sriwijaya untuk memerintah daerah ini dan memperkenalkan "Marga" tradisional yang mengatur sistem yang terus-menerus digunakan sampai Banten mengambil alih sebagai penguasa Lampung.

Penelitian oleh Hilman Hadikusuma di 1989 (1989: 157) datang dengan hasil sedikit berbeda ia berkata "Marga" sistem itu dimulai pada abad ke 17 atau 18. Sebelum bahwa pemerintah tradisional di Lampung yang dikenal sebagai keratuan, beberapa dari ini "keratuan" dalam bentuk abad ke-17 atau 18 organisasi berdasarkan buay (sanak keluarga) yang dikenal sebagai Paksi (beberapa buays atau klan) dan marga, (bagian dari buays dalam bentuk desa )

Penelitian lain dilakukan oleh Mintosih (1993: 42 - 45) memiliki hasil sebagai berikut; sistem marga diperkenalkan dan digunakan oleh Sriwijaya sebagai sarana untuk mengontrol wilayah di bawah kekuasaannya. Sistem ini lebih birocrathic dan lebih cocok untuk dipakai dalam komunitas besar dan kompleks 'dibandingkan dengan aturan lebih otoriter sistem keratuan di mana pemimpin dipilih dan dipilih oleh otoritas yang lebih tinggi. Marga adalah bentuk sesuai dengan hukum Simbur Cahaya, sebuah kodifikasi hukum dan aturan di Kerajaan Sriwijaya pada abad ke-17 dilakukan oleh Ratu Sinuhun Semabing, istri Sultan Mengirim Kenayan yang memerintah antara 1629 dan 1636.

Menurut sejarah oral ada empat penguasa dari "sistem keratuan" di Lampung, Empu Canggih berjudul Datu Dipuncak, Empu Serunting berjudul Ratu Pugung, Empu Rakihan berjudul Ratu Balaw, dan Empu Aji Saka berjudul Ratu Pemanggilan (Soebing, 1988: 5 - 7; Hadikusuma, 1.989: 44 - 47; Warganegara, 1994: 2 - 4). Sekitar abad ke-14 daerah kecil menderita dari lebih dari populasi yang pada gilirannya membuat masyarakat untuk bermigrasi ke tempat-tempat lain di Lampung.

Datu Dipuncak pindah dari Sekalabrak ke Canguk Gaccak, di tempat baru lebih banyak orang bergabung dengannya membuat pemukiman besar yang tenang di tempat itu. Menurut Soebing (1988: 20) orang-orang membuat ABUNG klan Saiwa Mega terdiri dari sembilan keluarga; Nunyai, Unyi, Nuban, Bulan, Beliuk, Kunang, Selagai dan Anak Tuha. Setelah beberapa kali Buay Bulan bergabung keluarga marga Pak Mega dan posisinya digantikan oleh keluarga Nyerupa Buay (Warganegara, 1994: 19). Buay Nyerupa ini merupakan bagian dari keluarga Buay Nyerupa di Sakau, Lampung Barat yang pada gilirannya juga merupakan bagian dari Paksi Pak Sekalabrak. masyarakat Bumijawa di Lampung Timur termasuk Nuban Family semua dimulai dari daerah Sekalabrak.

Paksi Pak Sekalabrak sendiri mulai dengan Empu Rakihan atau Ratu Balaw, dari pernikahannya dengan Puteri Sindi ia punya empat anak; Empu Belunguh, Empu Nyerupa, Empu Parenong, dan Empu Bejalan Di Wai. Mereka membentuk Paksi Pak klan Sekalabrak dan tinggal di sekitar Bukit Pasagi dan danau Ranau (Sekalabrak).

Beberapa Pemikiran di Bumijawa
Bumi DKI di Lampung dapat dihubungkan ke situs Gedong Dalem di Lampung Timur dan Tapak Siring situs di Lampung Barat. Gedong Dalem yang terletak di Sungai Way Batanghari, dan berdasarkan artefak yang ditemukan ada penyelesaian dibatasi oleh sungai. Pada situs ini kita dapat menemukan makam Menak Nyaringgem, Midah, dan Putri Bagus, yang dianggap sebagai nenek moyang oleh masyarakat setempat. Makam yang terletak di luar daerah pemukiman dalam bentuk gundukan dan tidak memiliki orientasi yang nyata.

Ini bentuk gundukan (bukit pemakaman) juga dapat ditemukan pada situs Bentengsari di Kabupaten Jabung. Di lokasi gundukan yang terletak di dalam dinding tanah yang juga dapat ditemukan makam tua dan "dakon batu" (Laili, 2008). Dengan membandingkan dua situs dan adanya "batu dakon", kesimpulan yang muncul adalah baik situs berasal dari era pra Islam.

Adapun situs Tapak Siring, itu juga dibatasi oleh dinding tanah dan parit-parit buatan. Dalam situs ini budaya megalitik juga dapat dilihat dari batu yang depresi dan tanda buatan manusia di permukaannya, batu yang dikenal sebagai "batu katai" oleh penduduk setempat.

Megalitik tetap juga dapat ditemukan di Lampung Barat, seperti di Tapak Siring situs dan situs orang lain di sekitar Danau Ranau. Mereka tetap berada dalam bentuk menhir, Flat Batu, Ukiran Batu, Batu Lampiran, Dolmens, dan Ukiran Dolmens. Pecahan keramik dan tembikar juga telah ditemukan di situs tersebut.

Para ahli seperti Geldern (1945), Heekeren (1958), dan Soejono (1981) berpendapat bahwa istilah megalitik tidak menghormati ke era tertentu atau budaya tetapi lebih sebagai sebuah tradisi yang berkembang dari era neolitik melalui era baja dan tembaga sampai sekarang di beberapa tempat (Prasetyo, 2004: 95). tradisi Megalitik yang universal, itu ditemukan di seluruh dunia menerima untuk Australia (Bellwood, 1975: 281-380; Soejono, 1984: 242)

Megalitik etimologi berasal dari bahasa Yunani yang berarti besar Mega dan Lithos yang berarti batu dengan demikian berarti tradisi megalitik yang menggunakan dan membuat objek batu besar. Di sisi lain, benda yang ditemukan di ladang sering tidak sesuai dengan istilah tersebut. Seperti kata FA Wagner, konsep megalitik tidak menghormati untuk batu besar khususnya sebagai batu kecil atau batu sama sekali tidak dapat dikatakan memiliki karakteristik megalitik tapi lebih kepada ilahi cara memuja leluhur (Wagner, 1962: 72).

Untuk beberapa pakar budaya megalitik telah diidentifikasi dengan memuja nenek moyang, seperti Geldern yang mengatakan bahwa struktur megalitik dapat dikaitkan dengan dunia bawah, untuk memastikan perjalanan yang aman bagi kematian dan kehidupan yang aman dan sejahtera untuk hidup (Geldern, 1945: 149). Pengaruh tradisi ini dapat dilihat dengan cara masyarakat melihat cara hidup dapat efek kehidupan setelah kematian (Soejono, 1977: 195).

Awalnya Bhumi DKI di beberapa prasasti Sriwijaya dianggap sebagai penyelesaian migran Jawa di Lampung, tapi tahu itu diketahui bahwa Bumijawa di daerah Sukadana di tinggal oleh masyarakat cerdik Lampung. Penyelesaian Bumijawa di Sukadana dimulai pada sekitar abad ke 14 Masehi dan sebagai Kapus Kota dan prasasti Palas Pasemah berasal dari abad ke-7 Masehi ada hampir tidak ada koneksi. Tapi masyarakat Bumijawa di Sukadana adalah migran dan selalu mengambil nama pemukiman mereka ke daerah baru harus datang ke pertimbangan.

Berdasarkan etno bersejarah masyarakat Bumijawa berasal dari Bukit Pesagi dan sebelumnya daerah sekitar Martapura, daerah-daerah tersebut tahu Sekalabrak yang dikenal sebagai span sekitar wilayah Danau Ranau. Kawasan itu sudah merupakan penyelesaian untuk waktu yang lama seperti yang kita dapat menemukan candi dari era klasik di Jepara, dengan jenis perusahaan candi dari era klasik tanggal awal dan memiliki ornamen yang sama dengan candi di Tengah dan Jawa Timur dari sekitar abad ke 9 dan 10 Masehi .

Di daerah Bawang terdapat sebuah prasasti Hujung Langit tahu sebagai yang menurut Damais (1962) berasal dari 919 C atau 997 AD dan pengaruh Jawa dapat dilihat pada metode yang dating. Selanjutnya Damais menghubungkan metode berpacaran Jawa di Jawa prasasti dengan ekspedisi untuk Sriwijaya yang menurut sumber-sumber Cina terjadi di 992-993 AD. Kesimpulannya adalah bahwa pengaruh Jawa yang ditemukan pada prasasti itu bukti pendudukan Jawa di Lampung sesuai dengan sumber-sumber Cina (Guillot, dkk, 1996: 116).

versi english
versi indonesia



SOME CONSIDERATION ON LOCATION OF “BHUMI JAWA”



by

Nanang Saptono, Nurul Laili, & Octaviadi Abrianto


Menurut prasasti Kota Kapur tidak ada pengaruh Jawa di daerah Danau Ranau, tetapi pendapat bahwa areal tersebut sudah diselesaikan dalam waktu yang lama sebelum prasasti Hujung Langit dan Candi Jepara dapat diterima jika ada cukup data untuk kembali ke atas. Hipotesis yang mengatakan Bhumi DKI terletak di Lampung masih memerlukan lebih banyak data untuk memverifikasi yang mungkin dapat ditemukan di Danau Ranau, Martapura atau Sumatera Selatan, tapi pasti tidak di Lampung.


Bibliografi

Bellwood, Peter, 1975. Penaklukan Man The Pasific: The Prasejarah Asia Tenggara sebuah Oseania. New York: Oxford University Press.

Boechari. 1979. An Old Malay Prasasti dari Sriwijaya di Palas Pasemah (South Lampung). Dalam Pra Seminar Penelitian Sriwijaya. Jakarta: Dan Peninggalan Purbakala Pusat Penelitian Nasional.

-----------. 1986. Penyelidikan Baru pada Prasasti Kedukan Bukit. Dalam untuk Artikel Guru.Jakarta Bapak: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.

Damais, L Ch. 1962. Etudes Soumatranaises, I: Tanggal La de de l'prasasti Hujung Langit (Bawang). Dalam BEFEO, L (2).

Guillot, Claude; Lukman Nurhakim; Wibisono Sonny. 1996. Banten Sebelum Zaman Islam, Kajian Arkeologi Di Banten Girang 932? - 1526. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Ecole Francaise d'Extreme-Orient, Penerbit Bentang.

Hadikusuma, Hilman. 1989. Masyarakat Adat Dan Budaya Lampung. Bandung: Mandar Maju.

Heine Geldern, Robert von. 1945. "Prasejarah Penelitian di Hindia Belanda" Ilmu dan Ilmuwan. Di Hindia Belanda. New York, Dewan untuk Hindia Belanda, Suriname dan Curacao

Laili, Nurul. 2008. Laporan Hasil Penelitian Arkeologi Permukiman Tradisi Masa Prasejarah Di Kawasan Serampang Rawa, Sragi Dan Sekitarnya, Kabupaten Lampung Timur, Provinsi Lampung. Balai Arkeologi Bandung.

Mintosih, Sri et. (al) 1993.. Sistem Pemerintahan Tradisional Daerah Sumatera Selatan. Jakarta: Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan.

Prasetyo, Bagyo, dkk. 2004. Agama asithi Masyarakat Prasejarah Di Indonesia. Jakarta: Proyek Penelitian Arkeologi Dan Pengembangan.

Purwanti, Retno. 1995. Perang asithi Masa Sriwijaya: Tinjauan Terhadap Prasasti-Prasasti Abad VII Masehi. Dalam Jurnal Penelitian Balai Arkeologi Bandung No 3, pg. 98-103.

Saptono, Nanang. 2000. Pemukiman Kuna Di Daerah Sukadana, Propinsi Lampung. Dalam Edy Sunardi dan Agus Aris Munandar (ed.). Rona Arkeologi, pg. 107-122. Bandung: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia.

Sevin, Olivier. 1989. Sejarah dan Populasi. Dalam Transmigrasi. Jakarta: Orstom-Departemen transmigrasi.

Soebing, Abdullah A. 1988. Kedatuan Di Gunung Keratuan Di Muara. Jakarta: Karya Unipress.

Soejono, R.P., 1977. "Sistem-Sistem Penguburan Masa Prasejarah PADA Akhir Di Bali". Dalam Aspek-Aspek Arkeologi Indonesia No 5. Jakarta: Puslitarkenas

Soejono, R.P., 1984. "Jaman Prasejarah Di Indonesia". Di Vol Paling Nasional Indonesia. I. Jakarta: PN Balai Pustaka

Soekmono. 1985. Amerta 3. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.

Sumadio, Bambang. 1990. Jaman Kuna, Paling II Nasional Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan Kebudayaan Dan.

Tim Penelitian. 2006. Laporan Penelitian Awal Situs-situs Keratuan Di Propinsi Lampung. Lampung Dinas Pendidikan Nasional Propinsi - Balai Arkeologi Bandung.

Wagner, F.A. 1962. "Indonesia: The Art pada Group Pulau". Seni World Series.

Warganegara, Marwansyah. 1994. Riwayat Orang Lampung.

Yudha, Ahmad Kesuma. 1995. Perspektif sosiologis Dalam Pembangunan Persiapan Kabupaten Daerah Tingkat II Tulangbawang. Essay pada Seminar Pembangunan Masyarakat Tulangbawang. Bandar Lampung, 29-30 Maret 1996. Edi Badan Pembangunan Daerah Persiapan Kabupaten Daerah Tingkat II Tulangbawang (belum diterbitkan). 

Klik disini untuk melanjutkan »»

Wednesday, August 1, 2012

Syarat menjadi anggota KOPASSUS

. Wednesday, August 1, 2012
0 comments

Artinya adalah, sehebat apapun sebuah pasukan kalau terusmenerus harus berada di medan perang yang sama, pastilah akan mengalami kerugian. Menurut Sun Tzu II, kalaupun menang tentulah ditebus dengan kerugian yang amat perih. Kuncinya adalah, para jenderal yang mengirim serdadu ke medan perang haruslah memperhitungkan kelelahan fisik dan mental yang akan melanda pasukan. Mencapai batas maksimum ketahanan manusia, itulah yang ingin dikejar di depo-depo pendidikan prajurit komando. Prajurit ditempa dengan sangat ganas sampai ia merasakan kesakitan yang tidak pernah terbayangkan olehnya. Ada pihak menyebutnya tidak manusiawi.

Tapi apakah perlakuan yang akan diterima seandainya ia tertangkap musuh akan lebih manusiawi? Tidak hanya dilatih menghadapi siksaan musuh, juga menghadapi pertempuran lama dan melelahkan seperti yang dikhawatirkan Sun Tzu II. Kopassus saat ini memiliki dua grup tempur berseragam (Parako): Grup 1 di Jakarta dan Grup 2 di Kartosuro, Solo. Sam lagi disebut Grup 3 Sandi Yudha yang tak lain blue jins soldiers serta makin lengkap dengan Satuan 81 Penanggulangan Teror. Setingkat dengan keempat unit adalah Pusat Pendidikan Kopassus di Batujajar. Kelima satuan ini dipimpin perwira berpangkat kolonel.

Keterpampilan lempar pisau bukan urusan mudah. Dalam kondisi terdesak, keahlian ini bisa sangat berguna melumpuhkan musuh.
Grup 1 memiliki karakter keras, cepat dan militan. Karakter yang menjadi identitas satuan ini merupakan warisan dari senior pendahulu. Karakter itu terus dipertahankan dari generasi ke generasi hingga akhirnya menjadi trade mark satuan. Sebagai satuan tempur, Grup 1 sangat lah ideal. Semua anggota tinggal di komplek markas yang terawat dengan baik. Fasilitas latihan sangat memadai. Mulai dari dari halang rintang, hutan, kolam renang, menara, lapangan tembak 600 dan 300 meter, lapangan tembak pistol serta sebuah lapangan tembak bulat 15 meter. Lapangan ini digunakan untuk mengasah kemampuan tembak reaksi. Ketika COMMANDO melakukan peliputan, fasilitas CQB (close quarter battle) tengah dibenahi. Untuk menjawab kebutuhan gerak cepat, tersedia tiga heli pad. Lalu jika ditelusuri track yang mengitari markas di samping pagar pembatas, panjangnya 5,5 kilometer. Jalanan ini biasa digunakan untuk jogging tiap senin dan tanggal 17.

Demo beladiri wushu Grup 1 saat HUT Kopassus 2005
Syarat ketat

Ada beberapa tahapan yang mesti dilalui bagi warga negara Republik Indonesia untuk menjadi prajurit Kopassus. Secara umum harus lulus pendidikan pembentukan sesuai tingkatan. Mulai dari Secata (Sekolah Calon Tamtama), Secaba (Sekolah Calon Bintara), Sepa PK (Sekolah Pembentukan Prajurit Karir) dan Akademi Militer. Setelah lobos dari saringan penerimaan, mereka melanjutkan ke tahap pendidikan kecabangan, pendidikan para dasar, latihan komando selama tujuh bulan yang berakhir dengan pembaretan di Nusakambangan. Setelah di satuan akan ditambahkan dengan materi spesialisasi dasar.
Bagi yang melewati pintu masuk dari Sepa PK dan Akademi Militer, pendidikan para dan komando baru dilakukan setelah dilantik sebagai perwira. Pendidikan komando bertujuan untuk mendidik dan mengembangkan kemampuan prajurit Kopassus sehingga mampu baik secara individu dan kelompok melaksanakan operasi komando.


Dalam proses rekrutmen, Kopassus menerapkan standar di atas rata-rata. Dari postur tubuh saja, minimal 168 sentimeter. Bahkan era Prabowo Subijanto pernah mencapai 170 sentimeter. Penerapan standar tinggi ini tentu dengan maksud untuk mendapatkan sosok prajurit yang tangguh dan berwibawa. Dari semua tahapan pendidikan di atas, materi komando diakui paling berat. Namun justru dari sinilah awalnya pembentukan prajurit individu seperti yang dibutuhkan Kopassus sebagai komando tempur. Kenyataannya walau seberat apapun, toh generasi muda tetap berduyun-duyun mengikuti seleksi penerimaan anggota Kopassus. Ada kebanggaan memang ketika baret merah melekat di kepala.

Membaca jejak musuh. Dengan keahliannya. Parako bisa menduga kapan posisi itu ditinggal musuh.
Adalah Mayor Inf Sarwo Edhi Wibowo yang banyak membawa angin perubahan dalam pendidikan komando. Komandan ke 4 ini menata materi pendidikan lebih sistematis dan terarah sesuai kebutuhan. Termasuk mencari daerah latihan Akhir dari penyempurnaan adalah ditetapkannya tahapan pendidikan komando: Tahap Basis, Gunung dan Hutan serta Tahap Pendaratan Laut.

Kecepatan reaksi tidak hanya harus mampuni di medan lapang. Kadang di sela semak belukar, prajurit Parako harus bisa bergerak cepat dengan senjata mengarah kedepan untuk mengejar musuh yang lari. ketika sesi foto ini dibuat, fotograper COMMANDO sempat kelabakan mengikuti gerak pasukan yang terlalu cepat. Mengejar komposisi pas, kecepatan dan posisi pasukan, itulah susahnya.
Waktu pendidikan ditetapkan selama 20 minggu. Periode pelatihan dibagi atas Latihan Dasar Komando (10 minggu), Gunung dan Hutan (enam minggu) dan Pendaratan Laut (empat minggu). Dalam ketiga tahapan ini, siswa komando menerima 63 materi pelajaran seperti teknik tempur, baca peta, pionir, patroli, survival, naik gunung serta pendaratan dengan kapal motor dan pendaratan amfibi. Pada masa setelah itu, waktu pendidikan mengalami peningkatan menjadi 22 minggu.


Malah karena kebutuhan organisasi dan lapangan yang terns meningkat, tahun 1991 waktu pendidikan menjadi 28 minggu. Para petinggi di Mako Kopassus terus berupaya mengupgrade kemampuan dan keterampilan prajurit. Maka diciptakanlan 28 jenis pendidikan dan kursus untuk mempertajam kemampuan. Mulai dari pendidikan sandi yudha, kursus pelatih komando, kursus pelatih sandi yudha, kursus pelatih para, kursus pelatih free fall, kursus jump master dan kursus pandu udara (path finder).

Hingga pertengahan 1990-an, Kopassus akhirnya mencapai pertumbuhan terbesarnya. Dari tiga grup dikembangkan menjadi lima grup. Kebutuhan personel meningkat dengan cepat. Ujungujungnya yang kelimpungan adalah Pusdik Passus. Untuk mengakalinya, akhirnya gelombang pendidikan yang sebelumnya sekali setahun dijadikan dua kali. Dan untuk memberikan jeda refreshing kepada Pusdik, waktu pendidikan dikurangi menjadi 20 minggu dengan tidak mengurangi materi. Artinya terjadi pemadatan materi. Dalam crash program ini calon prajurit diambilkan dan sejumlah Kodam serta werving internal di setiap grup Setelah kebutuhan terpenuhi, pendidikan komando kembali menjadi 28 minggu setahun sekali.



Paket ini masih dipertahankan hingga hari ini. Pendidikan komando diakhiri di Nusakambangan. Sebelum acara pembaretan, selalu diadakan demo penutup dari siswa komando yang disaksikan para undangan dan keluarga siswa. Kopassus menyebut demo saat matahari terbit ini dengan Seruko (Serangan Regu Komando). Setelah menyelesaikan pendidikan komando dan para dasar serta berhak menyandang brevet komando dan baret merah, saatnya berdinas pun dimulai.

Prajurit-prajurit baru itu disebar di Grup 1 dan 2. Di Grup, pada tahap awal mereka akan melaksanakan orientasi untuk mendapatkan gambaran tugas, nilainilai dan tradisi satuan barunya. Baru setelah itu dibawah pembinaan Grup, mereka menerima beberapa materi latihan. Baik untuk meningkatkan kemampuan, setidaknya memelihara kualifikasi yang sudah diperoleh. Tuntutan selama di Grup adalah setiap prajurit minimal hams mengikuti saw kali tugas operasi. Tuntutan ini adalah syarat mutlak apabila salah sam dari mereka dipromosikan ke Sat 81 atau Grup 3.

Pada masa menunggu sebelum tugas operasi turun, prajurit diberi pendidikan lanjutan. Yaitu pendidikan spesialisasi dan pendidikan khusus di Sekolah Pertempuran Khusus (Sepursus).

Sepursus diselenggarakan di Pusdik Passus, Batujajar. Kemampuan yang akan dikuasai ini sangat menunjang dalam operasi komando. Karena beroperasi dalam tim-tim kecil dengan menerapkan teknik-teknik unconventional warfare, pertempuran yang dilakukan memang tidak keroyokkan. Perebutan, pengepungan, pencidukan, penyekatan atau penculikan tokoh musuh, adalah jenis pertempuran yang tidak sembarangan.


Meluncur dari tower, adalah kemampuan standar yang harus dimiliki. Kekuatan tangan dan bahu, jadi kunci.

Untuk itulah, materi-materi di Sepursus diarahkan kepada kebutuhan tugas. Meliputi PJD (Pertempuran Jarak Dekat), perang kota, gerilya lawan gerilya, selam militer dan antiteror. Selain Sepursus, prajurit juga diharuskan mengikuti pendidikan spesialisasi. Jika Sepursus difokuskan untuk level kelompok tempur, maka pendidikan spesialisasi adalah kecakapan individu untuk mendukung kelompok tempur. Kopassus menggunakan istilah regu untuk kelompok tempur terkecilnya yang berkekuatan 10 orang.


Sniper Accuracy International 7,62 milimeter. Pada kenyataannya, sniper ini jarang dibawa regu. Kelincahan gerak di hutan, jadi pertimbangan kenapa sniper ini jarang dibawa. Kecuali penugasan sangat khusus.

Pendidikan komando
Melelahkan dan meruntuhkan mental. Itulah kesimpulan akhir dan pendidikan komando. Ada yang kuat, setengah kuat dan yang gagal di tengah jalan. Penilaian akhir pendidikan komando dilakukan secara akumulatif dari puluhan materi yang diberikan. Dari penilaian itu akan terlihat kecenderungan, kelebihan dan kekurangan seorang prajurit. Peserta gagal biasanya karena sakit.



Standar selama pendidikan di atas rata-rata. Kalau nilai jasmani di satuan lain minimal 61, Kopassus menerapkan angka 70. Nilai yang sama untuk menembak. Yang berat juga dalam urusan jasmani adalah renang nonstop 2.000 meter dan renang ponco menyeberangi selat dari Cilacap ke Nusakambangan.


Unit PJD dengan kendaraan khusus Land Rover dilengkapi senapan berat CIS 12,7 milimeter

Setidaknya ada dua materi yang bikin bulu kuduk merinding dalam tahap Perang Hutan. Yaitu Pelolosan dan Kamp Tawanan Sebagian prajurit Kopassus yang ditanya soal dua materi ini hanya bisa tersenyum tipis sambil melirik COMMANDO. “Berat, berat sekali tapi harus dilalui apapun yang akan terjadi,” aku seorang prajurit Grup 1.



Pelolosan diawali dengan dilepasnya siswa satu demi satu di sebuah tempat di Nusakambangan. Dalam hitungan tertentu, is harus tiba di save house di pantai Permisan. “Kalau ditarik garis, itu dari ujung ke ujung pulau hingga berakhir di Permisan,” jelas Kapten Inf Agus Widodo, Perwira Seksi Intel Grup 1. Pelolosan dimulai pukul 7 pagi hingga paling lambat memasuki save house pukul 10 malam.



Setelah dilepas instruktur, siswa yang tidak dibekali apapun itu hams mampu menembus segala rintangan selama di perjalanan. Rintangan baik dari alam atau rekaan para instruktur. Rekaan instruktur bisa berupa tembakan atau dikejar sampai tertangkap. “Kami harus berupaya agar tidak tertangkap, karena tertangkap sama saja gagal melaksanakan tugas,” kata Agus. Apa jadinya kalau tertangkap? Bayangkan saja perang sungguhan ketika seorang tentara musuh tertangkap. Dimasukkan ke dalam tahanan lalu diinterogasi dan disiksa sampai buka mulut. Gebukan, tendangan, hantaman benda keras dan sejumlah siksaan lainnya yang mungkin tidak bisa disebutkan, hams diterima bagi yang tertangkap. Katanya sejumlah tentara asing mengakui bahwa materi ini tidak manusiawi. Menurut Kapten Agus, latihan ini membuat mereka betul-betul sadar ancaman yang bisa saja diterima dalam sebuah pertempuran.

Selesai Pelolosan, berikutnya sudah menunggu materi Kamp Tawanan Jika di Pelolosan hanya yang tertangkap merasakan siksaan sebagai tawanan, maka di Kamp Tawanan seluruh siswa merasakannya. Selama tiga hari tiga malam, siswa merasakan beratnya menjadi tawanan perang. Walau semua jenis siksaan fisik ini sudah ditentang lewat Konvensi Jenewa, namun siapa bisa menjamin tidak akan terjadi. Contoh paling aktual lihat saja penyiksaan tawanan Irak di Baghdad Correctional Facility yang dulunya Penjara Abu Ghraib oleh tentara Amerika Serikat tahun 2004.

Klik disini untuk melanjutkan »»

Kisah Hidup Si Anak Tukang Kayu (JOKOWI)

.
0 comments

Masa kecil Jokowi bukanlah orang yang berkecukupan, bukanlah orang kaya. Ia anak tukang kayu, nama bapaknya Noto Mihardjo, hidupnya amat prihatin, dia besar di sekitar Bantaran Sungai. Ia tahu bagaimana menjadi orang miskin dalam artian yang sebenarnya.

Bapaknya penjual kayu di pinggir jalan, sering juga menggotong kayu gergajian. Ia sering ke pasar, pasar tradisional dan berdagang apa saja waktu kecil. Ia melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana pedagang dikejar-kejar aparat, diusiri tanpa rasa kemanusiaan, pedagang ketakutan untuk berdagang. Ia prihatin, ia merasa sedih kenapa kota tidak ramah kepada manusia.

Sewaktu SD ia berdagang apa saja untuk biaya sekolah, ia mandiri sejak kecil, tidak ingin menyusahkan bapaknya yang tukang kayu itu. Ia mengumpulkan uang receh demi receh dan ia celengi di tabungan ayam yang terbuat dari gerabah. Kadang ia juga mengojek payung, membantu ibu-ibu membawa belanjaan, ia jadi kuli panggul. Sejak kecil ia tahu bagaimana susahnya menjadi rakyat, tapi disini ia menemukan sisi kegembiraannya.

Ia sekolah tidak dengan sepeda, tapi jalan kaki. Ia sering melihat suasana kota, di umur 12 tahun dia belajar menggergaji kayu, tangannya pernah terluka saat menggergaji, tapi ia senang dan ia gembira menjalani kehidupan itu, baginya “Luwih becik rengeng-rengeng dodol dawet, timbang numpak mercy mbrebes mili”. Keahliannya menggergaji kayu inilah yang kemudian membawanya ingin memahami ilmu tentang kayu.

Lalu ia berangkat ke Yogyakarta, ia diterima di Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada, jurusan kehutanan. Ia pelajari dengan tekun struktur kayu dan bagaimana pemanfaatannya serta teknologinya. Masa kuliah ia jalani dengan amat prihatin, karena tidak ada biaya hidup yang cukup. Kuliahnya disambi dengan kerja sana sini untuk biaya makan, ia sampai lima kali pindah indekost karena tidak mampu membayar biaya kost dan mencari yang lebih murah.

 
Hidup dengan prihatin membawanya kepada situasi disiplin, Jokowi mampu menerjemahkan kehidupan prihatinnya lewat bahasa kemanusiaan, bahwa dalam kondisi susah orang akan menghargai tindakan-tindakan manusiawi, disinilah Jokowi belajar untuk rendah hati.

Setamat kuliah ia tetap menjadi tukang gergaji kayu, tapi ia sudah memiliki wawasan, ia melihat industri kayu berkembang pesat, ia mendalami mebel. Disini ia pertaruhkan segalanya, rumah kecil satu-satunya milik bapaknya ia jaminkan ke Bank. Ia bukan saja berhasil, tapi ia juga pengambil resiko yang cerdas. Dari sebuah bengkel mebel dengan gedek disamping pasar yang kumuh, berhasil dikembangkannya. Ia menangis ketika pekerja-pekerjanya bisa makan.

Suatu saat ia kedatangan seorang Jerman bernama Micl Romaknan, orang Jerman ini kebetulan tidak membawa grader (ahli nilai) kayu, ia ngobrol dengan Jokowi, kata orang Jerman itu : “Wah, di Jepara saya ketemu orang namanya Joko, baiklah kamu kunamakan saja Djokowi, kan mirip Djokovich” akhirnya terciptalah sebuah nickname Jokowi yang melegenda itu.

Perkembangan bisnisnya bagus, ia dipercaya karena ia jujur, orang Jerman suka dengan orang yang jujur dan pekerja keras, Jokowi hanya tidur 3 jam sehari, selebihnya adalah kerja. Ia tidak pernah makan uang dari memeras atau pungli, ia makan dari keringatnya sendiri. Dengan begitu hidupnya berkah. Jokowi berhasil mengekspor mebel puluhan kontainer dan ia jalan-jalan ke Eropa.

Tidak seperti kebanyakan orang Indonesia yang mengunjungi Eropa dengan cara hura-hura atau foto sana, foto sini tanpa memahami hakikat masyarakatnya. Jokowi di Eropa berpikir reflektif. “Kenapa kota-kota di Eropa, kok sangat manusiawi, sangat tinggi kualitasnya baik kualitas penghargaan terhadap ruang gerak masyarakat sampai dengan kualitas terhadap lingkungan” lama ia merenungkan ini, akhirnya ia menemukan jawabannya “Ruang Kota dibangun dengan Bahasa Kemanusiaan, Bahasa Kerja dan Bahasa Kejujuran”. Tiga cara itulah yang kemudian dikembangkan setelah ia menduduki jabatan di Solo.
Setelah sukses di bisnis, Jokowi berpikir “Bagaimana ia bisa berterima kasih pada bangsanya” lalu ia mendapatkan jawabannya, bahwa contoh terbaik untuk berterima kasih adalah dengan menjadi pemimpin rakyat yang bertanggung jawab. Lalu ia masuk ke dalam dunia politik dengan seluruh rasa tanggung jawab. Pertanggung jawaban politiknya adalah pertanggungjawaban moral bukan karena ia mencari hidup dalam dunia politik, ia ikhlas dalam bekerja, baginya inilah cara berterima kasih kepada bangsanya.

Ia masuk ke dalam dunia politik, awalnya tidak dipercaya, karena sosoknya lebih mirip tukang becak alun-alun kidul ketimbang seorang gagah yang hebat, dalam masyarakat kita, sosok dengan ‘bleger’ yang besar lebih diambil hati ketimbang orang dengan sosok kurus, ceking dan tak berwibawa itulah yang dialami Jokowi, tapi beruntung bagi Jokowi, saat itu masyarakat Solo sedang bosan dengan pemimpin lama yang itu itu saja, mereka mencoba sesuatu yang baru. Akhirnya Jokowi menang tipis.
Masyarakat mempercayainya dan ia menjawabnya dengan “Kerja” ia siang malam bekerja untuk kotanya, ia datangi tanpa lelah rakyatnya, ia resmikan gapura-gapura pinggir jalan, ia hadir pada selamatan-selamatan kecil, ia terus diundang bahkan untuk meresmikan pos ronda sebuah RW sekalipun. Ia bekerja dari akarnya sehingga ia mengerti anatomi masyarakat.

Suatu hari Jokowi didatangi Kepala Satpol PP. Kepala Satpol itu meminta pistol karena ada perintah pemberian senjata dari Mendagri. Jokowi meradang dan menggebrak meja “Gila apa aku menembaki rakyatku sendiri, memukuli rakyatku sendiri…keluar kamu…!!” kepala Satpol PP itupun dipecat dan diganti dengan seorang perempuan, pesan Jokowi pada kepala Satpol PP perempuan itu “Kerjalah dengan bahasa cinta, karena itu yang diinginkan setiap orang terhadap dirinya, cinta akan membawa pertanggungjawaban, masyarakat akan disiplin sendiri jika ia sudah mengenal bagaimana ia mencintai dirinya, lingkungan dan Tuhan. Dari hal-hal inilah Jokowi membangun kota-nya, membangun Solo dengan bahasa cinta….”.

Apakah di Jakarta ia tak bakalan mampu? banyak yang nyinyir bahwa Solo bukan Jakarta. Tapi apa kata Jokowi “Hidup adalah tantangan, jangan dengarkan omongan orang, yang penting kerja, kerja dan kerja. Kerja akan menghasilkan sesuatu, sementara omongan hanya menghasilkan alasan

Jokowi berangkat dalam alam paling realistisnya. Kepemimpinan yang realistis, bertanggungjawab dan kredibel. Beruntung Indonesia masih memiliki Jokowi, pada Jokowi : “Merah Putih ada harapan berkibar kembali dengan rasa hormat dan bermartabat sebagai bangsa.
 
Masihkah idealisme itu tetap hidup?

Klik disini untuk melanjutkan »»

Tuesday, July 3, 2012

Review Artikel Perkembangan Morfologi Kota Menggala

. Tuesday, July 3, 2012
1 comments

Menurut Prof. Drs. R. Bintarto, kota adalah suatu sistem jaringan kehidupan manusia dengan kepadatan penduduk yang tinggi, strata sosial ekonomi yang heterogen, dan corak kehidupan yang materialistik. Morfologi kota merupakan perubahan spasial kota dari perode tahun ke tahun yang tidak hanya mencakup tampilan fisik dan visual saja, namun juga melibatkan unsur-unsur nonfisik yang turut mempengaruhi proses perubahan kota. Dengan mengetahui morfologis suatu kota dapat diperoleh gambaran bentuk secara fisik arsitektural yang berkaitan dengan sejarah pembentukan kawasan tersebut sebagai artefak dan dapat mengungkapkan budaya dari masyarakat penghuninya. Perkembangan suatu kota tidak berlangsung secara spontan, tetapi mengalami proses yang panjang dan dipengaruhi oleh perilaku penghuninya, contohnya saja Kota Menggala.

Menggala merupakan satu-satunya kota yang berada di tepian Way Tulang Bawang, Lampung. Pemukiman berada di tepi sungai sebelah selatan dan timur. Secara geografis berada pada posisi 4°27’ - 4°29’ LS dan 105°13’ - 105°16’ BT. Dari sisi historis peranan kota ini dalam berbagai jaringan hubungan baik regional maupun nasional sudah berlangsung sejak zaman Sriwijaya hingga Banten. Elemen penyusun kota, yaitu manusia, ruang kehidupan, dan memori-memori ataupun teknologi pendukung adalah elemen yang sifatnya selalu berkembang, demikian halnya Kota Menggala yang selalu berkembang dari tahun ke tahun hingga saat ini.

Keberadaan Kota Menggala berawal dari abad ke-19. Saat itu Lampung menjadi daerah protektorat, yaitu bawahan Kerajaan Banten. Akan tetapi, sejak 1948 saat Kerajaan Banten dikuasai Belanda, pemerintahan Menggala pun diatur dengan cara-cara Belanda. Jadi otoritas Lampung menjadi jajahan Belanda. Kota Menggala awalnya memiliki rumah panggung dengan ketinggian tertentu guna menghindari gangguan binatang dan banjir. Sejak sekitar 1920-an mulai ada bangunan rumah menggunakan semen, tapi sebelum itu masih panggung. Selain itu, terdapat juga bandar kecil yang disebut Tangga Raja yang digunakan untuk perdagangan lada pada zaman itu. Bentuk Kota Menggala menurut motivasi, tergolong practical model yaitu kota dagang (company town). Hal ini karena sedari dulu Kota Menggala sebai pusat perdagangan lada, selain itu k
ota ini menjadi bandar penting yang menghubungkan Lampung dengan Jawa dan Singapura. Barang komoditas yang semula hanya lada berkembang ke karet, kopi, serta hasil hutan seperti damar dan rotan.

Sekitar tahun 1942, Kota Menggala mulai ramai penduduk. Pemukiman berada pada sisi selatan Way Tulang Bawang. Jalan-jalan utama dibuat sejajar dengan aliran Way Tulang Bawang. Antara jalan utama satu dengan lainnya dihubungkan oleh beberapa ruas jalan, sehingga membentuk suatu jaringan yang saling berpotongan secara tegak lurus. Gedung-gedung instansi dan sarana umum sudah mulai lengkap, misalnya
kantor polisi, kantor pos, gedung perwatin, rumah sakit, sekolah, Masjid Agung, dan pasar. Bahkan gedung perwatin sekarang dialihfungsikan menjadi kantor Bappeda (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah). Di sebelah utara Masjid Agung berjarak sekitar 1 km terdapat sederetan rumah tinggal yang juga difungsikan sebagai toko. Seiring dengan bergilirnya waktu, Kota Menggala semakin berkembang dengan dibangunnya hotel, wartel, rumah makan, terminal, taman makam pahlawan sampai dengan Universitas yang didirikan pada tahun 2006, yaitu Universitas Megow Pak.
Masjid Agung Kota Menggala
Alasan yang mendasari terbentuknya Kota Menggala yaitu menurut economic theory, yakni Kota berada di tempat strategis (jalur perdagangan dan pelayaran) sehingga orang-orang akan singgah di kota tersebut dan melakukan perniagaan. Hal ini juga yang menjadi alasan mendasar Kota Menggala mengalami perkembangan morfologi kota. Peranan jalur transportasi darat berupa jalan raya yang memanjang sejajar dengan aliran sungai, sangat dominan dalam mempengaruhi perkembangan kota. Selain itu, peranan transportasi laut dengan adanya bandar kecil yang disebut Tangga Raja di Kota Menggala yang digunakan untuk perdagangan lada sejak zaman Belanda cukup mempengaruhi berkembangnya kota ini. Prasarana transportasi dan berbagai fasilitas umum dibangun secara bertahap dalam memenuhi kebutuhan.

P
erkembangan kota Menggala mengalami pergeseran ke arah selatan. Berdasarkan sumber, beberapa bangunan lama sebagian besar masih kokoh berdiri menyiratkan kejayaan masa lalu. Kota Menggala masih memperlihatkan bekas kota dagang yang signifikan pada zamannya. Kota Menggala sekarang ini berada pada masa dominasi mobil antarkota, yakni perkembangan penggunaan mobil maju dengan pesatnya. Sehingga terjadi perluasan transportasi darat ke daerah-daerah sekitar Kota Menggala yang membuat pemukiman transmigran di sekitar Menggala, kini berkembang menuju kota Menggala.
Tugu Kota Menggala
Untuk terus meningkatkan pembangunan di Kota Menggala, sebaiknya berbagai upaya harus dilakukan, seperti perawatan jalan-jalan kota, pemasangan lampu jalan, pembuatan taman kota, menjaga kebersihan kota dan lain-lain, yang diharapkan dapat memperindah Kota Menggala agar dapat menampakkan ciri khasnya sebagai kota dagang.

sumber artikel: arkeologi lampung (2009)
sumber lainnya: visit lampung (2009), institut lampung gologi (2009), radar lampung (2010)

Klik disini untuk melanjutkan »»

Sunday, February 26, 2012

5 Hacker Paling Cantik dan Seksi di Dunia

. Sunday, February 26, 2012
0 comments

Apa yang ada dalam benak Anda jika mendengar kata hacker? Orang berpenampilan layaknya kutu buku dengan kacamata tebal? Singkirkan dulu bayangan tersebut. Karena ternyata, 5 hacker wanita ini mungkin bisa mengubah pandangan Anda.

1. Kristina Svechinskaya

http://galery.besoeki.com/wp-content/uploads/2011/12/Kristina_Svechinskaya_.jpg

Ia adalah seorang mahasiswi di New York University. Kristina sempat populer karena keberhasilannya membobol jutaan dolar dari beberapa bank di Inggris dan Amerika Serikat.

Bersama dengan 9 orang lainnya, Kristina menyedot uang dari ribuan akun bank sebelum akhirnya tertangkap pada November 2010. Hacker cantik ini menggunakan virus Zeus Trojan Horse untuk menyerang akun-akun tersebut. Banyak orang sepakat bahwa ia merupakan salah satu hacker terseksi yang pernah ada.

2. Ying Kracker

http://3.bp.blogspot.com/-ZicTATBDRuw/TavdH--fxpI/AAAAAAAAEYE/RkMFzxXqkjs/s400/Yingkracker00.jpg

Wajahnya yang manis dan terlihat polos membuat orang tak mungkin berpikir bahwa Ying adalah seorang hacker. Ying sendiri berprofesi sebagai guru di Shanghai, China.

Ia mengajarkan langkah-langkah dasar dari proses hacking, seperti bagaimana mengganti IP Address dan bagaimana memanipulasi password. Ying juga merupakan seorang ahli dalam membuat software khusus hacker.

3. Joanna Rutkowska

http://webhosting.pl/files/groups/editors/bezpieczenstwo/2009_05/joanna_rutkowska_02.jpg

Joanna adalah wanita asal Polandia yang sangat tertarik dengan dunia hacking. Namun bedanya, ia lebih memfokuskan diri pada bagaimana membangun sistem keamanan untuk mencegah terjadinya kejahatan tersebut.

Wanita cantik ini pertama kali dikenal saat acara Black Hat Briefings di Las Vegas pada Agustus 2006. Saat itu ia mempresentasikan diri dengan membobol sistem keamanan di Windows Vista. Tidak hanya itu, Joanna juga berhasil menerobos Intel System Management Mode dan Trusterd Execution Technology.

Sejak itu, Joanna sering diundang oleh berbagai perusahaan software untuk memberi saran soal sistem keamanan mereka.

4. Raven Alder

http://megafun.vn/dataimages/201106/original/images530487_nuhacker_2.jpg

Gadis bergaya gothic ini menjadi wanita pertama yang melakukan presentasi di DefCon Hacker Conference. Namun ia berpendapat bahwa dirinya tidak ingin dikenal hanya sebagai seorang hacker wanita.

Raven lebih senang jika populer karena kemampuannya sebagai hacker diakui oleh orang lain. Belakangan, ia cukup aktif mendesain, mengetes, dan mengaudit pendeteksi keamanan di berbagai agency.

5. Xiao Tian

http://1.bp.blogspot.com/-EfJd4lSdPT8/Tavb62Lh-MI/AAAAAAAAEX0/X8JCmFwlvbE/s1600/08a60b467002e6416b63e5b7.jpg

Hacker berwajah oriental ini tampil elegan dan modis. Penampilannya yang feminim berbanding terbalik dengan kemampuannya membobol sistem keamanan. Xiao Tian memang mengaku sangat tertarik pada dunia fashion.

Ia pertama kali dikenal saat berumur 19 tahun. Salah satu korbannya tidak lain adalah perusahaan pemilik search engine terbesar di dunia, Google. Saat itu, Xiao Tian bersama timnya menyerang sistem infrastruktur dari Google China.

Sumber : Yahoo

Klik disini untuk melanjutkan »»