Saturday, February 4, 2017

Marga di Lampung

. Saturday, February 4, 2017
0 comments

Lampong tempo dulu

Marga di Lampung

Lampung mengenal marga-marga yang mulanya bersifat geneologis-territorial. Tapi, tahun 1928, pemerintah Belanda menetapkan perubahan marga-marga geneologi-teritorial menjadi marga-marga teritorial-genealogis, dengan penentuan batas-batas daerah masing-masing.
Setiap marga dipimpin oleh seorang kepala marga atas dasar pemilihan oleh dan dari punyimbang-punyimbang yang bersangkutan. Demikian pula, kepala-kepala kampung ditetapkan berdasarkan hasil pemilihan oleh dan dari para punyimbang.




Di seluruh keresidenan Lampung, terdapat marga-marga teritorial sebagai berikut:
No.Nama MargaKecamatan sekarangBeradatBerbahasa(Dialek)
1.MelintingLabuhan MaringgaiPeminggir MelintingA (api)
2.JabungJabungidemidem
3.Sekampungidemidemidem
4.RatuDataran RatuPeminggir Darah Putihidem
5.Dataranidemidemidem
6.PesisirKaliandaidemidem
7.Rajabasaidemidemidem
8.KetibungWay Ketibungidemidem
9.TelukbetungTelukbetungPeminggir Telukidem
10.Sabu ManangaPadangcerminidemidem
11.Rataiidemidemidem
12.Punduhidemidemidem
13.Pedadaidemidemidem
14.BadakCukuhbalakPeminggir Pemanggilan (Semaka)idem
15.Putih Dohidemidemidem
16.Limau Dohidemidemidem
17.Kelumbayanidemidemidem
18.Pertiwiidemidemidem
19.LimauTalangpadangidemidem
20.Gunungalipidemidemidem
21.PutihKedondongidemidem
22.BeluguhKotaagungidemidem
23.Benawangidemidemidem
24.Pematang Sawahidemidemidem
25.Ngarip SemuongWonosoboidemidem
26.Buay Nunyai (Abung)KotabumiPepadunO (nyou)
27.Buay UnyiGunungsugihidemidem
28.Buay SubingTerbanggiidemidem
29.Buay NubanSukadanaidemidem
30.Buay BeliyukTerbanggiidemidem
31.BuayNyerupaGunungsugihidemidem
32.SelagaiAbung Baratidemidem
33.Anak TuhaPadangratuidemidem
34.SukadanaSukadanaidemidem
35.Subing LabuanLabuan Maringgaiidemidem
36.Unyi Way SeputihSeputihbanyakidemidem
37.GedongwaniSukadanaidemidem
38.Buay Bolan UdikKarta (Tulangbawang Udik)Pepadun (Megou-pak)idem
39.Buay BolanMenggalaPepadun (Megou-pak)O (nyou)
40.Buay TegamoanTulangbawang Tengahidemidem
41.Buay AjiTulangbawang Tengahidemidem
42.Buay UmpuTulangbawang Tengahidemidem
43.Buay Pemuka Bangsa RajaNegeri BesarPepadunA (api)
44.Buay Pemuka Pangeran IlirPakuonratuidemidem
45.Buay Pemuka Pangeran UdikPakuonratuidemidem
46.Buay Pemuka Pangeran TuhaBelambangan Umpuidemidem
47.Buay BahugaBahuga (Bumiagung)idemidem
48.Buay SemengukBelambangan Umpuidemidem
49.Buay BaradatuBaradatuidemidem
50.BungamayangNegararatuPepadun (Sungkai)idem
51.BalauKedatonidemidem
52.Merak-BatinNataridemidem
53.PugungPagelaranidemidem
54.Pubian (Nuat)Padangratuidemidem
55.TeginenengTeginenengidemidem
56.Way SemahGedongtataanidemidem
57.Rebang PugungTalangpadangSemendeSumatera Selatan
58.Rebang KasuiKasuiidemidem
59.Rebang SeputihTanjungrayaidemidem
60.Way TubeBahugaOganidem
61.MesujiWiralagaPegaganidem
62.Buay BelunguhBelalauPeminggir (Belalau)A (api)
63.Buay KenyanganBatubrakidemidem
64.KembahangBatubrakidemidem
65.SukauSukauidemidem
66.LiwaBalik Bukit Liwaidemidem
67.SuohSuohidemidem
68.Way SindiKarya Penggawaidemidem
69.La'aiKarya Penggawaidemidem
70.BandarKarya Penggawaidemidem
71.PedadaPesisir Tengahidemidem
72.Ulu KruiPesisir Tengahidemidem
73.Pasar KruiPesisir Tengahidemidem
74.Way NapalPesisir Selatanidemidem
75.TenumbangPesisir Selatanidemidem
76.NgamburBengkunatidemidem
77.NgarasBengkunatidemidem
78.BengkunatBengkunatidemidem
79.BelimbingBengkunatidemidem
80.Pugung PenengahanPesisir Utaraidemidem
81.Pugung MelayaLemongidemidem
82.Pugung Tampak-Pesisir Utaraidemidem
83.Pulau PisangPesisir Utaraidemidem
84.Way TenongWay TenongSemendoSumatera Selatan

Susunan marga-marga territorial yang berdasarkan keturunan kerabat tersebut, pada masa kekuasaan Jepang sampai masa kemerdekaan pada tahun 1952 dihapus dan dijadikan bentuk pemerintahan negeri.

Sejak tahun 1970, nampak susunan negeri sebagai persiapan persiapan pemerintahan daerah tingkat III tidak lagi diaktifkan, sehingga sekarang kecamatan langsung mengurus pekon-pekon/kampung/desa sebagai bawahannya



Asal-usul Ulun Lampung erat kaitannya dengan istilah Lampung sendiri. Kata Lampung sendiri berasal dari kata "anjak lambung" yang berarti berasal dari ketinggian ini karena para puyang Bangsa Lampung pertama kali bermukim menempati dataran tinggi Sekala Brak di lereng Gunung Pesagi. Sebagaimana I Tsing yang pernah mengunjungi Sekala Brak setelah kunjungannya dari Sriwijaya dan dia menyebut To-Langpohwang bagi penghuni Negeri ini. Dalam bahasa hokkian, dialek yang dipertuturkan oleh I Tsing To-Langpohwang berarti orang atas dan seperti diketahui Pesagi dan dataran tinggi Sekala brak adalah puncak tertinggi ditanah Lampung.

Prof Hilman Hadikusuma di dalam bukunya (Adat Istiadat Lampung:1983) menyatakan bahwa generasi awal Ulun Lampung berasal dari Sekala Brak, di kaki Gunung Pesagi, Lampung Barat. Penduduknya dihuni oleh Buay Tumi yang dipimpin oleh seorang wanita bernama Ratu Sekerummong. Negeri ini menganut kepercayaan dinamisme, yang dipengaruhi ajaran Hindu Bairawa.

Buay Tumi kemudian dapat dipengaruhi empat orang pembawa Islam yang berasal dari Pagaruyung, Sumatera Barat yang datang ke sana. Mereka adalah Umpu Bejalan diWay, Umpu Nyerupa, Umpu Pernong dan Umpu Belunguh. Keempat Umpu inilah yang merupakan cikal bakal Paksi Pak Sekala Brak sebagaimana diungkap naskah kuno Kuntara Raja Niti. Namun dalam versi buku Kuntara Raja Niti, nama puyang itu adalah Inder Gajah, Pak Lang, Sikin, Belunguh, dan Indarwati. Berdasarkan Kuntara Raja Niti,

Prof Hilman Hadikusuma menyusun hipotesis keturunan Ulun Lampung sebagai berikut:
  • Inder Gajah
Gelar: Umpu Lapah di Way
Kedudukan: Puncak Dalom, Balik Bukit
Keturunan: Orang Abung
  • Pak Lang
Gelar: Umpu Pernong
Kedudukan: Hanibung, Batu Brak
Keturunan: Orang Pubian
  • Sikin
Gelar: Umpu Nyerupa
Kedudukan: Tampak Siring, Sukau
Keturunan: Jelma Daya
  • Belunguh
Gelar: Umpu Belunguh
Kedudukan: Kenali, Belalau
Keturunan: Peminggir
  • Indarwati
Gelar: Puteri Bulan
Kedudukan: Cenggiring, Batu Brak
Keturunan: Tulang Bawang



  Adat-istiadat

Pada dasarnya jurai Ulun Lampung adalah berasal dari Sekala Brak, namun dalam perkembangannya, secara umum masyarakat adat Lampung terbagi dua yaitu masyarakat adat Lampung Saibatin dan masyarakat adat Lampung Pepadun. Masyarakat Adat Saibatin kental dengan nilai aristokrasinya, sedangkan Masyarakat adat Pepadun yang baru berkembang belakangan kemudian setelah seba yang dilakukan oleh orang abung ke banten lebih berkembang dengan nilai nilai demokrasinya yang berbeda dengan nilai nilai Aristokrasi yang masih dipegang teguh oleh Masyarakat Adat Saibatin.

 Masyarakat adat Lampung Saibatin

Masyarakat Adat Lampung Saibatin mendiami wilayah adat: Labuhan Maringgai, Pugung, Jabung, Way Jepara, Kalianda, Raja Basa, Teluk Betung, Padang Cermin, Cukuh Balak, Way Lima, Talang Padang, Kota Agung, Semaka, Suoh, Sekincau, Batu Brak, Belalau, Liwa, Pesisir Krui, Ranau, Martapura, Muara Dua, Kayu Agung, empat kota ini ada di Propinsi Sumatera Selatan, Cikoneng di PantaiBanten dan bahkan Merpas di Selatan Bengkulu. Masyarakat Adat Saibatin seringkali juga dinamakan Lampung Pesisir karena sebagian besar berdomisili di sepanjang pantai timur, selatan dan barat lampung, masing masing terdiri dari:
  • Paksi Pak Sekala Brak (Lampung Barat)
  • Keratuan Melinting (Lampung Timur)
  • Keratuan Darah Putih (Lampung Selatan)
  • Keratuan Semaka (Tanggamus)
  • Keratuan Komering (Provinsi Sumatera Selatan)
  • Cikoneng Pak Pekon (Provinsi Banten)

  Masyarakat adat Lampung Pepadun

Masyarakat beradat Pepadun/Pedalaman terdiri dari:
  • Abung Siwo Mego (Unyai, Unyi, Subing, Uban, Anak Tuha, Kunang, Beliyuk, Selagai, Nyerupa). Masyarakat Abung mendiami tujuh wilayah adat: Kotabumi, Seputih Timur, Sukadana, Labuhan Maringgai, Jabung, Gunung Sugih, dan Terbanggi.
  • Mego Pak Tulangbawang (Puyang Umpu, Puyang Bulan, Puyang Aji, Puyang Tegamoan). Masyarakat Tulangbawang mendiami empat wilayah adat: Menggala, Mesuji, Panaragan, dan Wiralaga.
  • Pubian Telu Suku (Minak Patih Tuha atau Suku Manyarakat, Minak Demang Lanca atau Suku Tambapupus, Minak Handak Hulu atau Suku Bukujadi). Masyarakat Pubian mendiami delapan wilayah adat: Tanjungkarang, Balau, Bukujadi, Tegineneng, Seputih Barat, Padang Ratu, Gedungtataan, dan Pugung.
Sungkay-WayKanan Buay Lima (Pemuka, Bahuga, Semenguk, Baradatu, Barasakti, yaitu lima keturunan Raja Tijang Jungur). Masyarakat Sungkay-WayKanan mendiami sembilan wilayah adat: Negeri Besar, Ketapang, Pakuan Ratu, Sungkay, Bunga Mayang,Blambangan Umpu,Baradatu,Bahuga,dan Kasui.


Falsafah Hidup Ulun Lampung

Falsafah Hidup Ulun Lampung termaktub dalam kitab Kuntara Raja Niti, yaitu:
  • Piil-Pusanggiri (malu melakukan pekerjaan hina menurut agama serta memiliki harga diri)
  • Juluk-Adok (mempunyai kepribadian sesuai dengan gelar adat yang disandangnya)
  • Nemui-Nyimah (saling mengunjungi untuk bersilaturahmi serta ramah menerima tamu)
  • Nengah-Nyampur (aktif dalam pergaulan bermasyarakat dan tidak individualistis)
  • Sakai-Sambaian (gotong-royong dan saling membantu dengan anggota masyarakat lainnya)
Sifat-sifat di atas dilambangkan dengan ‘lima kembang penghias sigor’ pada lambang Provinsi Lampung.
Sifat-sifat orang Lampung tersebut juga diungkapkan dalam adi-adi (pantun):
Tandani ulun Lampung, wat piil-pusanggiri
Mulia heno sehitung, wat liom ghega dighi
Juluk-adok gham pegung, nemui-nyimah muaghi
Nengah-nyampugh mak ngungkung, sakai-Sambaian gawi.

 Bahasa Lampung

Artikel Lengkap di Bahasa Lampung
Bahasa Lampung, adalah sebuah bahasa yang dipertuturkan oleh UlunLampung di Propinsi Lampung, selatan palembang dan pantai barat Banten.

Bahasa ini termasuk cabang Sundik, dari rumpun bahasa Melayu-Polinesia barat dan dengan ini masih dekat berkerabat dengan bahasa Sundabahasa Batak,bahasa Jawabahasa Balibahasa Melayu dan sebagainya.

Berdasarkan peta bahasa, Bahasa Lampung memiliki dua subdilek. Pertama, dialek A (api) yang dipakai oleh ulun Sekala Brak, Melinting Maringgai, Darah Putih Rajabasa, Balau Telukbetung, Semaka Kota Agung, Pesisir Krui, Ranau, Komering dan Daya (yang beradat Lampung Saibatin), serta Way Kanan, Sungkai, dan Pubian (yang beradat Lampung Pepadun). Kedua, subdialek O (nyo) yang dipakai oleh ulun Abung dan Tulangbawang (yang beradat Lampung Pepadun).
Dr Van Royen mengklasifikasikan Bahasa Lampung dalam Dua Sub Dialek, yaitu Dialek Belalau atau Dialek Api dan Dialek Abung atau Nyow.

  Aksara Lampung

Artikel Lengkap di Aksara Lampung
Aksara lampung yang disebut dengan Had Lampung adalah bentuk tulisan yang memiliki hubungan dengan aksara Pallawa dari India Selatan. Macam tulisannya fonetik berjenis suku kata yang merupakan huruf hidup seperti dalam Huruf Arab dengan menggunakan tanda tanda fathah di baris atas dan tanda tanda kasrah di baris bawah tapi tidak menggunakan tanda dammah di baris depan melainkan menggunakan tanda di belakang, masing-masing tanda mempunyai nama tersendiri.

Artinya Had Lampung dipengaruhi dua unsur yaitu Aksara Pallawa dan Huruf Arab. Had Lampung memiliki bentuk kekerabatan dengan aksara Rencong, Aksara Rejang Bengkulu dan Aksara Bugis. Had Lampung terdiri dari huruf induk, anak huruf, anak huruf ganda dan gugus konsonan, juga terdapat lambing, angka dan tanda baca. Had Lampung disebut dengan istilah KaGaNga ditulis dan dibaca dari kiri ke kanan dengan Huruf Induk berjumlah 20 buah.

Aksara lampung telah mengalami perkembangan atau perubahan. SebelumnyaHad Lampung kuno jauh lebih kompleks. Sehingga dilakukan penyempurnaan sampai yang dikenal sekarang. Huruf atau Had Lampung yang diajarkan di sekolah sekarang adalah hasil dari penyempurnaan tersebut.


 
Keterangan gb: program perkebunan kopi milik Belanda untuk membudidayakan kopi Liberia (Liberian Koffee). sekitar bulan Maret tahu 1897 di Kedondong, Way Lima, Distrik Lampung.  Perkebunan itu sendiri dibangun oleh para transmigrasi dari berbagai daerah di jawa. Perkampungan dibagi dalam satuan pemukiman salah satunya Mataram, karena isinya orang-orang dari Mataram, dan selanjutnya. Foto ini membuktikan, tranmigrasi (Belanda menyebutnya emigrasi) di Lampung sudah dimulai tahun 1897. Diawali dari pesisir Way Lima, kemudian berkembang ke arah Gedungtataan (Pesawaran)

Nederlands: Repronegatief. Oosthaven ten zuiden van Teloekbetoeng, Lampongsche Bovenlanden, Zuid-Sumatra
sumber

Klik disini untuk melanjutkan »»