Thursday, June 27, 2013

'Big Brother' dan 'V for Vendetta' Dalam Dunia Maya

. Thursday, June 27, 2013

 http://images.detik.com/content/2013/06/25/398/anonymous460.jpg
Perkembangan IT yang sangat luar biasa tidaklah mungkin lepas dari bias ideologi para user dan administratornya. Negara-bangsa, sebagai entitas politik yang diakui dalam kontek politik internasional, memerlukan suatu instrumen untuk melakukan pengawasan terhadap ancaman internal maupun eksternal.

Dalam konteks IT, pengawasan tersebut dapat menggunakan teknologi komputasi terbaru. Hanya saja, pembocoran program PRISM oleh Edward Snowden dan pengembangan portal Wikileaks oleh Julian Assange membuktikan bahwa ada potensi bahwa pengawasan tersebut dapat diarahkan kepada warga negara yang baik-baik. Bagaimana ceritanya?

'Big Brother' dan 'V for Vendetta'

Sejarah sudah memberikan pelajaran, bahwa ideologi fasisme telah memberikan contoh akan pengawasan total terhadap warga negaranya. Fasisme, sebagai ideologi yang memuja negara-bangsa secara berlebihan, telah melahirkan Nazi Jerman dan Gestapo, dinas intelejen mereka.

Walaupun dengan teknologi yang masih sederhana, namun pengawasan Gestapo terhadap seluruh wilayah jajahan Nazi Jerman berlangsung dengan baik. Agitasi berlebihan pihak Gestapo akan 'bahaya konspirasi Yahudi' telah menyebabkan banyak persembunyian kelompok resistance dapat dibongkar.

Di era informasi ini, akhirnya sejarah fasisme ini didokumentasikan dalam sebuah novel dan komik.

Dalam novel '1984', George Orwell, sebagai penulis kebangsaan Inggris yang mengingat dengan baik peristiwa 'Battle of Britain' versus Nazi Jerman pada 1940, telah menuliskan akan bahaya fasisme yang dapat kembali dalam bentuk 'Big Brother'.

Apa itu 'Big Brother'? Ini adalah suatu sistem pengawasan (surveillance) par excellence, yang melingkupi segala bidang kehidupan dari warga negara.

Komik 'V for Vendetta', yang juga terinspirasi dari '1984', menggambarkan pemberontakan massif terhadap 'Big Brother' yang menurut cerita fiksi itu telah membelit seluruh sendi kehidupan masyarakat Inggris.

Salah satu fitur 'Big Brother' yang digambarkan oleh ‘V for Vendetta’ adalah mengkonstruksikan kelompok yang dianggap minoritas untuk ditindas, dalam rangka pengalihan isu. Hal tersebut penting supaya publik tidak sadar akan betapa bobroknya rezim fasisme.

Kedua karya sastra tersebut sudah menggambarkan secara sangat vivid, bahwa ada suatu pengawasan secara total terhadap kehidupan warga negara, dengan menggunakan teknologi.

Satu hal yang sebenarnya tidak terlalu mengejutkan, ternyata ada kemungkinan 'Big Brother' telah hadir di era informasi ini, dan mereka menggunakan sumber daya komputasi yang paling canggih untuk melaksanakan pengawasan mereka.

Untuk Apa Tools Spionase?

Di satu sisi, peringatan Edward Snowden terhadap keberadaan program spionase PRISM telah menyadarkan kita semua, bahwa 'Big Brother' sangat mungkin selalu mengawasi kita semua, setiap saat.

Pada dasarnya, program dan tools spionase hanyalah tools yang digunakan untuk menegakkan ideologi atau kepentingan kelompok elit tertentu.

Seharusnya, supaya tidak menyimpang menjadi 'Big Brother', program dan tools spionase seyogyanya hanya digunakan untuk mengawasi ancaman potensial bagi bangsa dan negara, bukan mengawasi kehidupan warga baik-baik.

Di sisi lain, perkembangan open source, dimana pengembangan software, bahkan hardware harus dilakukan secara transparan. Hal ini secara eksplisit juga menyatakan, bahwa peran pengawasan dilakukan oleh komunitas masing-masing, bukan oleh negara atau swasta.

Transparansi intra dan antar komunitas yang dilakukan oleh gerakan open source, adalah anti-tesis secara total terhadap konsep 'Big Brother'.

Seorang Linus Torvalds, walaupun beliau adalah developer sistim operasi Linux, ia sama sekali tidak memiliki otoritas sentral untuk mengatur dan mengawasi segala hal seperti polisi rahasia.

Linus sendiri selalu membuka diri untuk kritik, dan diskusi secara demokratis dalam rangka pengembangan komunitas open source.

Menyuarakan aspirasi kita kepada komunitas open source yang ada, seperti komunitas pengembangan software atau creative content, adalah suatu suara nyaring yang menyatakan kekritisan terhadap keberadaan 'Big Brother'.

Paranoid Maupun Diam Bukanlah Pilihan

Bercermin dari ancaman 'Big Brother', kebebasan berpendapat dan hak-hak sipil seyogyanya mendapat saluran aspirasi, bukan dibatasi.

Kontrak sosial Jaques Rousseau menyatakan, bahwa pemberian mandat kepada negara bukanlah untuk penindasan kebebasan pendapat. Oleh karena itu, setiap gejala keberadaan 'Big Brother' seyogyanya diwaspadai dan dikritisi dengan pedas.

Melihat gejala kehadiran 'Big Brother', ini menunjukkan bahwa demokrasi kita dalam ancaman. Namun diam dan paranoid bukanlah opsi yang bijak. Paranoid, dengan menutup layanan yang kita gunakan di mesin pencarian, media sosial dan lainnya, adalah tindakan yang sangat tidak bijak.

Hal tersebut seperti menyatakan, bahwa sebaiknya teknologi yang selama ini membantu kita harus kita buang ke tong sampah. Ini akan menyusahkan kita sendiri.

Kemudian, seyogyanya kita menyuarakan pemikiran/diskursus kritis di publik, baik dengan menulis atau berdebat, dalam rangka menggiring opini public untuk cyberspace yang lebih demokratis dan egaliter.

Saya yakin kita semua setuju terhadap pengawasan dan penegakan hukum di dunia maya, dalam rangka melindungi warga negara baik-baik dari ancaman kejahatan atau terorisme.

Selama ini, vendor IT memang sudah bekerja sama dengan otoritas hukum, untuk menshare data-data yang memang sangat potensial digunakan untuk aksi kriminal.

Yakinlah bahwa hanya mereka yang memiliki niat jahat (malicious intentions) yang akan dirugikan oleh surveillance elektronik dari negara-bangsa. Warga negara yang baik-baik tidaklah perlu khawatir berlebihan terhadap pengawasan oleh negara.

Penulis: Dr.rer.nat Arli Aditya Parikesit

0 comments: