Sunday, November 7, 2010

Objek Wisata Ekologi Hutan Monyet Di Bandar Lampung

. Sunday, November 7, 2010

Pernah berkunjung ke Hutan Wisata Sangeh? sebuah daerah di Bali yang menjadi objek wisata ekologi dan terkenal dengan keranya.



Kota Bandar Lampung juga memiliki sebuah lokasi yang hampir mirip dengan objek wisata di Bali tersebut, yakni hutan kera yang terletak di Jl. Ir. H Juanda Kelurahan Sumur Batu Kecamatan Teluk betung Utara atau dapat juga dikunjungi melalui samping Hotel Hartono Jl. Kesehatan Kelurahan Pahoman Kecamatan Tanjung Karang Timur. Areal ini memiliki luas sekitar 1 hektar dengan tanah yang miring (kemiringan lebih dari 60 derajat)


Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bandar Lampung telah merencanakan lokasi tersebut menjadi Objek Wisata Ekologi. Berdasarkan penelitian Yulianti (Mahasiswa Unila) pada tahun 2002 terdapat 29 ekor Macaca fasicularis atau biasa disebut monyet ekor panjang. Kini (2009) terjadi penambahan yang pesat terhadap populasi monyet ekor panjang di lokasi tersebut. Irianto (Mahasiswa Unila) dalam penelitiannya mencatat terdapat 66 ekor monyet ekor panjang yang menempati areal tersebut.


Bila dilihat dari penambahan populasi yang cukup pesat tersebut dapat diperoleh gambaran bahwa lokasi Hutan Kera tersebut sangat mendukung bagi kehidupan monyet disana, dimana terdapat sumber pakan yang berlimpah seperti Cermai (Phyllanthus acidus), Dadap (Erythrina variegata), Pisang (Musa paradisiaca), Randu (Ceiba petandra), Kopi (Coffea sp), Ketapang (Terminalia catapa), Kelapa (Cocos nucifea), Jambu air (Eugenia aquae), Jambu batu (Psidium guajava) dan beberapa tanaman lainnya. Selain itu ramainya warga kota yang berkunjung dan memberikan makanan membuat pakan monyet ekor panjang tersebut menjadi semakin berlimpah.

Namun seiring dengan waktu, tekanan terhadap habitat monyet ekor panjang di areal tersebut semakin meningkat. Pembangunan disekitar areal tersebut semakin padat, rumah dan gedung-gedung bertingkat semakin rapat dan suara bising dari kendaraan bermotor yang lalu lalang juga bertambah banyak. Selain itu penebangan pohon dan perubahan lahan menjadi kebun oleh warga juga semakin mempersempit ruang gerak monyet ekor panjang. Sehingga sering sekali dijumpai monyet ekor panjang yang berkeliaran di jalan ataupun pekarangan rumah warga.


Hal-hal diatas nampaknya perlu diperhatikan oleh Pemerintah dan Instansi yang terkait, mengingat areal tersebut tidak hanya sebagai habitat bagi monyet ekor panjang, tetapi juga sebagai sumber mata air dan oksigen bagi kota Bandar Lampung. Penetapan Hutan Kera sebagai objek wisata ekologi juga tidak boleh setengah-setengah dan harus benar-benar memperhatikan unsur konservasi, karena kondisi yang nampak saat ini dengan banyaknya warga yang berkunjung juga meninggalkan banyak sampah yang tentunya akan merusak kelestarian hutan kera tersebut.

2 comments:

Ginda Satria said...

ane setuju tuh??? sampah2 dsna bertebaran.. pemerintah kota masih kurang perhatiannya tuh??? :)

kosdiana@jak-stik.ac.id said...

menjaga kelestarian hutan, adalah tanggung jawab kita bersama .
dimulai dari diri kita masing-masing untuk merawat hutan dari hal yang kecil ..
terimakasih ..