Saturday, November 6, 2010

Tentang Kopi Luwak

. Saturday, November 6, 2010

LEGENDA paling ternama dalam sejarah kopi Indonesia adalah kopi luwak. Kopi ini sangat terkenal karena harganya yang luar biasa mahal. Popularitasnya pun tak lagi berskala lokal. Kalau Anda rajin berselancar di dunia maya, lusinan situs berbahasa asing di internet kini rajin menawarkan kopi luwak dengan harga selangit. Bayangkan, harganya US$ 300 sampai US$ 600 per kilogram!

Menurut legenda yang dikabarkan turun-temurun, kopi luwak adalah kopi yang diolah dan diperoleh dengan cara unik: biji kopinya diambil dari kotoran luwak –binatang sejenis kucing liar. Sebenarnya, kopi ini dihasilkan dari tanaman kopi biasa, hanya buah kopi yang sudah matang di pohonnya itu dimakan luwak. Yang menyebabkannya istimewa adalah insting luwak yang hanya memilih buah kopi terbaik untuk dimakan.

Buah kopi yang dimakan luwak itu tentu diolah dalam sistem pencernaannya. Namun, yang dicerna hanyalah kulit buahnya. Sedangkan biji kopinya dikeluarkan utuh bersama kotoran luwak itu. Biji kopi yang telah melalui tahapan ini dipercaya mengalami fermentasi sempurna selama dalam saluran pencernaan sang luwak.

Cerita selanjutnya sebenarnya tak ada beda dengan kopi-kopi lain. Biji kopi yang telah dipisahkan dari kotoran luwak itu diolah selayaknya biji kopi biasa. Namun, konon, rasa kopi yang diperoleh dengan cara istimewa ini benar-benar tak ada tandingannya. Maka, karena rasanya yang super dan cara produksinya yang tak mungkin massal, harga kopi ini pun selangit.

Mark Hanusz, penulis buku A Cup of Java, menuturkan bahwa dalam proses penulisan bukunya, ia pernah berupaya menelusuri keberadaan kopi luwak ini. Ia, misalnya, bertanya kepada orang-orang Amerika yang menjual kopi luwak. Namun, tak satu orang pun bersedia memberitahu dari mana mereka memperoleh pasokan kopi luwak ini, dan di mana sebenarnya kopi jenis ini diproduksi. “Mereka selalu bilang itu secret, rahasia,” kata Mark Hanusz.

Hanusz, yang sangat ingin memotret bagaimana luwak-luwak makan kopi itu, sempat berpikir bahwa sebenarnya para pedagang itu tahu letak kawasan yang memproduksi kopi luwak ini, namun benar-benar tak hendak memberitahu. Akhirnya, Mark Hanusz memutuskan untuk serius meneruskan perburuannya mencari kopi luwak di tanah asalnya, Indonesia. “Saya cari selama tujuh bulan dan bertanya pada hampir 70 orang,” katanya.

Hasilnya, Hanusz hanya bertemu beberapa orang yang yakin menceritakan bahwa pada 1950-an kopi luwak yang legendaris itu memang ada. Namun, mereka juga mengatakan bahwa kopi jenis ini sudah tak eksis lagi sekarang. Dalam proses pencariannya, Hanusz hanya menemukan kopi dengan merek dagang “Kopi Luwak” di Semarang.

Tapi, kopi itu bukanlah kopi yang berasal dari hasil olahan luwak, sebagaimana dikisahkan legenda turun-temurun. Produsen menamakan produknya Kopi Luwak karena kualitas biji kopi yang dipakai termasuk bagus.

Tak hanya penelusuran lapangan yang hasilnya nihil. Penelusuran literatur yang dilakukan Mark Hanusz pun tak berbuah. Hanusz tak mendapatkan literatur terpercaya yang menerangkan secara jelas di mana kopi luwak diproduksi. Kopi luwak hanya muncul dalam sebuah literatur berbahasa Belanda pada 1930-an.

“Dalam literatur itu hanya diterangkan bahwa kopi luwak dikonsumsi kalangan keraton di Solo,” kata Mark Hanusz. Jadi, sampai sekarang Mark Hanusz belum percaya bahwa kopi luwak itu benar-benar eksis. “Sampai sekarang kopi luwak itu saya anggap cuma mitos,” katanya. Padahal, kalau benar, kopi jenis ini bisa jadi bisnis besar.

Dari sekian banyak produsen kopi berkualitas tinggi didunia Lampung – khususnya Kabupaten Lampung Barat – merupakan salah satu provinsi yang memiliki aset produksi kopi tertinggi di Indonesia. Dengan topografi yang berbukit dan beriklim tropis nan sejuk sangat pas untuk budidaya biji kopi berkualitas tinggi.
Contoh Kopi Luwak dalam kemasan

***
“Adapun komoditas unggulan yaitu Kopi Arabika dan Robusta. Masyarakat yang terlibat dalam usaha tani kopi di Kabupaten Lampung Barat mencapai 92,24% dari total angkatan kerja yang ada dengan 40.135 KK berbasis komoditas kopi. Kontribusi subsektor perkebunan terhadap PDRB Kabupaten Lampung Barat sebesar 42,41% yang didukung dengan tingginya produksi kopi pada tahun 2007 yaitu 38.419,3 ton. Jumlah ini bila disetarakan dengan harga kopi Rp. 15.000/kg, maka sumbangan komoditas kopi bagi peningkatan pendapatan daerah mencapai Rp. 576,288 milyar.”
Sumber:
-disbunlambar
-suryana kopi luwak

0 comments: